Inflasi Tahunan Kota Ambon Tembus 4,76 Persen, Elly Toisutta Instruksikan TPID Bergerak Cepat Kendalikan Harga

f70d28d3 3b20 4fef 90f6 cbf645f5326c

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Ambon bersama seluruh stakeholder dan distributor memperkuat langkah konkret dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menyusul meningkatnya tekanan inflasi di Kota Ambon.

Instruksi tersebut disampaikan Elly Toisutta saat membuka Rapat Koordinasi TPID Kota Ambon bersama stakeholder dan distributor yang berlangsung di Manise Hotel Ambon, Jumat (30/10/2026).

Dalam sambutannya, Elly mengungkapkan berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kota Ambon pada September 2026 tercatat sebesar 0,68 persen secara bulanan atau month-to-month.

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 3,29 persen dan inflasi tahunan atau year-on-year berada pada angka 4,76 persen.

Menurutnya, angka tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait agar tidak lengah dalam mengantisipasi perkembangan harga di pasar.

“Angka ini tentu menjadi sinyal penting bagi kita semua agar tidak lengah dalam menjaga stabilitas harga. Laju inflasi yang terutama dipengaruhi kelompok transportasi serta sejumlah komoditas pangan membutuhkan respons yang cepat, terukur, dan berbasis data,” tegasnya.

Untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat, Elly menginstruksikan seluruh perangkat daerah menerapkan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Pada aspek keterjangkauan harga, Dinas Perdagangan dan Perindustrian diminta meningkatkan pelaksanaan Operasi Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM), terutama di kawasan permukiman padat penduduk.

Pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di setiap kecamatan agar intervensi pemerintah benar-benar tepat sasaran.

Sementara pada aspek ketersediaan pasokan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan diminta mengoptimalkan gerakan menanam komoditas cabai dan bawang bersama kelompok tani lokal, termasuk di Dusun Taeno dan wilayah Hutumuri.

Elly juga meminta penguatan koordinasi dengan Bank Indonesia, khususnya terkait intervensi biaya transportasi untuk mendukung kelancaran pasokan bahan pangan ke Ambon.

Ia turut menyoroti dampak fenomena El Niño berkepanjangan yang berpotensi memengaruhi produksi, distribusi, stok, hingga harga komoditas pangan.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah cabai merah dan cabai keriting yang berdasarkan laporan telah mencapai kisaran Rp120.000 hingga Rp160.000 per kilogram.

Karena itu, kerja sama antar daerah dengan wilayah produsen seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur harus diperluas, baik melalui pola Government to Government (G to G) maupun Business to Business (B to B).

Selain itu, Dinas Perhubungan bersama KSOP diminta memperhatikan arus bongkar muat bahan kebutuhan pokok di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, termasuk memberikan prioritas terhadap kontainer pengangkut komoditas pangan esensial.

Elly menegaskan, pengendalian inflasi tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh stakeholder, terutama distributor sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan ketersediaan barang di pasar.

Ia berharap melalui koordinasi yang kuat, stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok di Kota Ambon dapat terjaga sehingga masyarakat tidak terbebani oleh lonjakan harga. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan