Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan SDAB1 yang menyasar peserta didik di SMP Negeri 6 Ambon, Kamis (10/9/2026). Dalam kegiatan ini, para siswa diberikan edukasi mengenai cara melakukan penyelamatan diri dan evakuasi mandiri ketika menghadapi bencana.
Kepala BPBD Kota Ambon, Frits R.M. Tatipikalawan, S.Hut., M.Si, mengatakan peserta didik merupakan salah satu kelompok rentan yang harus mendapatkan pembekalan kesiapsiagaan sejak dini.
Menurutnya, anak-anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa gempa bumi dan tsunami merupakan ancaman bencana. Mereka juga harus memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri ketika bencana benar-benar terjadi.
“Kita ingin anak-anak sekolah tidak hanya mengetahui bahwa gempa dan tsunami itu merupakan ancaman bencana, tetapi mereka juga harus tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana itu terjadi,” ujar Frits.
Ia menegaskan, kemampuan melakukan evakuasi mandiri merupakan pengetahuan penting yang harus dimiliki peserta didik, mengingat bencana dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi secara pasti.
“Ketika terjadi gempa, anak-anak harus tahu bagaimana melindungi diri, kemudian setelah itu harus mengetahui bagaimana melakukan evakuasi menuju tempat yang aman. Ini yang terus kita tanamkan,” katanya.
Frits menilai kesiapsiagaan tidak boleh baru dibangun setelah bencana terjadi. Edukasi dan latihan harus dilakukan sejak sebelum bencana agar masyarakat, termasuk anak-anak, memiliki respons yang cepat dan tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
“Kita tidak pernah menginginkan bencana terjadi, tetapi kita harus selalu siap. Karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana, bukan setelah bencana terjadi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sekolah merupakan salah satu lokasi strategis untuk membangun budaya sadar bencana. Sebagian besar waktu peserta didik dihabiskan di lingkungan pendidikan sehingga mereka perlu memahami prosedur penyelamatan apabila bencana terjadi ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Selain mampu menyelamatkan diri, Frits berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diteruskan kepada keluarga masing-masing.
“Anak-anak ini bisa menjadi agen informasi di keluarganya. Apa yang mereka pelajari di sekolah bisa disampaikan kepada orang tua dan keluarga, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya terbentuk di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Kabid Darlog) BPBD Kota Ambon, Novita Berhitu, S.STP., M.Han, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas peserta didik sebagai kelompok rentan.
Saat diwawancarai langsung di SMP Negeri 6 Ambon, Kamis (10/9/2026), Novita mengatakan siswa perlu diberikan pemahaman praktis mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi gempa bumi maupun ancaman tsunami.
“Yang kita lakukan adalah memberikan pemahaman kepada anak-anak sekolah tentang bagaimana melakukan penyelamatan dan evakuasi mandiri ketika menghadapi gempa bumi dan tsunami,” jelas Novita.
Menurutnya, edukasi tersebut tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga diarahkan agar peserta didik memahami langkah-langkah dasar penyelamatan diri.
Siswa diperkenalkan dengan cara merespons guncangan gempa, melindungi diri, mengenali kondisi lingkungan, memahami jalur evakuasi serta mengetahui lokasi yang dapat dijadikan tempat aman.
Khusus menghadapi ancaman tsunami, peserta didik juga perlu memahami pentingnya merespons secara cepat apabila terjadi gempa kuat yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Novita mengatakan latihan seperti ini penting karena kepanikan dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko korban saat bencana terjadi.
“Jadi anak-anak ini kita latih supaya ketika terjadi bencana mereka tidak panik, tetapi tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyelamatkan diri,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan kesiapsiagaan di lingkungan sekolah juga diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas karena siswa dapat membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Kalau anak-anak sudah tahu apa yang harus dilakukan, mereka juga bisa mengingatkan orang tua dan keluarganya tentang pentingnya kesiapsiagaan,” ujarnya.
BPBD Kota Ambon memandang edukasi kepada peserta didik sebagai bagian dari penguatan kapasitas kelompok rentan. Anak-anak memiliki keterbatasan tertentu dalam menghadapi kondisi darurat sehingga membutuhkan pengetahuan, pendampingan dan latihan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Frits menegaskan, kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama dan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah maupun BPBD.
Sekolah, guru, peserta didik, orang tua dan masyarakat harus memiliki pemahaman yang sama mengenai tindakan penyelamatan ketika bencana terjadi.
“Yang paling penting adalah membangun kesadaran dan membiasakan anak-anak untuk mengetahui jalur evakuasi, titik aman dan tindakan yang harus dilakukan. Jangan sampai ketika bencana terjadi baru kita berpikir harus berbuat apa,” pungkasnya.
Melalui kegiatan SDAB1 di SMP Negeri 6 Ambon, BPBD Kota Ambon berharap peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melakukan penyelamatan serta evakuasi mandiri.
Edukasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembentukan budaya sadar bencana sejak dini, sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat Kota Ambon yang lebih tangguh, siap dan responsif dalam menghadapi potensi bencana. (BN Grace)








