BMKG Ingatkan Ancaman Gempa Magnitudo 6–7 dan Tsunami di Ambon, Warga Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan

a4971261 5125 43f0 a5d1 144b51543c46

Editor: Redaksi

AMBON, Bedahnusantara.com: Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengingatkan masyarakat Kota Ambon dan Provinsi Maluku untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 hingga 7 yang dapat menimbulkan kerusakan, serta ancaman tsunami.

Peringatan tersebut disampaikan Nasrol saat memberikan keterangan dalam rangka pembukaan Sekolah Lapang Gempa Bumi Tahun 2026 di Kota Ambon, Jumat (24/10/2026). Menurutnya, kondisi geografis Maluku yang memiliki sejumlah sesar aktif menjadikan kesiapsiagaan sebagai kebutuhan mendesak yang harus dibangun secara berkelanjutan.

Nasrol menjelaskan, keberadaan sejumlah sesar atau patahan di wilayah tersebut memiliki potensi memicu gempa bumi yang dapat berdampak serius terhadap keselamatan masyarakat dan infrastruktur.

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

“Yang patut kita waspadai adalah potensi-potensi gempa dan tsunami. Di wilayah kita ini ada beberapa sesar yang memiliki potensi terjadinya gempa bumi, termasuk gempa yang berpotensi merusak dengan magnitudo sekitar 6 sampai 7,” ujarnya.

Ia mengatakan, catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah Ambon dan sekitarnya pernah mengalami kejadian gempa bumi dan tsunami pada masa lampau, mulai dari periode kolonial sekitar abad ke-17 dan ke-19 hingga abad ke-20.

Menurutnya, catatan sejarah tersebut harus menjadi pengingat bahwa ancaman gempa dan tsunami bukan sesuatu yang dapat diabaikan. Masyarakat perlu memahami risiko yang ada sekaligus mengetahui tindakan penyelamatan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Nasrol juga menyinggung besarnya dampak tsunami yang dalam kondisi tertentu dapat mencapai wilayah dengan elevasi tinggi. Namun, ketinggian rambatan tsunami di setiap lokasi dapat berbeda, bergantung pada kondisi topografi, bentuk pantai, serta karakteristik gelombang yang datang.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap jalur evakuasi dan kawasan yang berpotensi terdampak tsunami, terutama bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan dataran rendah.

Bangun Budaya Siaga, Bukan Kepanikan

Lebih lanjut, Nasrol menegaskan bahwa pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

Menurutnya, edukasi kebencanaan tidak bertujuan menimbulkan ketakutan, melainkan membentuk kewaspadaan yang konstruktif agar masyarakat mampu mengambil tindakan secara tepat ketika menghadapi situasi darurat.

“Tujuan kita adalah membangun kewaspadaan secara konstruktif. Kita bukan membangun kepanikan kepada masyarakat, tetapi membangun kewaspadaan agar menjadi budaya tangguh menghadapi gempa dan tsunami,” tegasnya.

Ia turut mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Ambon yang telah bekerja sama dengan BMKG dan berbagai pihak dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk melalui pengembangan desa berstatus Tsunami Ready.

Nasrol menjelaskan, pengakuan Tsunami Ready merupakan bagian dari inisiatif internasional yang berkaitan dengan UNESCO, bukan sertifikasi yang diberikan langsung oleh BMKG. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengenali ancaman, menerima informasi peringatan dini, serta melakukan evakuasi secara tepat.

El Nino, Kabut Asap hingga Ancaman Banjir dan Longsor

Selain ancaman gempa bumi dan tsunami, Nasrol mengingatkan bahwa masyarakat Maluku juga perlu mengantisipasi berbagai bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi kondisi iklim dan cuaca.

Ia menyebutkan, kondisi El Nino yang berlangsung saat ini berpotensi memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran, baik di kawasan permukiman maupun lahan.

Sementara itu, kabut asap yang terjadi belakangan ini turut berdampak terhadap jarak pandang. Nasrol menyampaikan bahwa kondisi jarak pandang penerbangan saat memberikan keterangan tersebut telah membaik, dengan visibilitas sekitar lima hingga enam kilometer, sehingga aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat dapat berlangsung lebih lancar.

Meski demikian, ia meminta seluruh pihak tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.

Nasrol juga mengingatkan bahwa musim hujan di Kota Ambon dan Provinsi Maluku diprakirakan mulai pada dasarian pertama Desember. Dasarian merupakan periode sepuluh hari dalam kalender meteorologi.

Dengan prakiraan tersebut, pemerintah daerah dan seluruh perangkat terkait diharapkan mulai mempersiapkan langkah antisipasi sejak November guna mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Sejumlah ancaman yang perlu diwaspadai antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sambaran petir.

Pemerintah Diminta Perkuat Langkah Antisipasi

Nasrol menegaskan, kesiapsiagaan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, hingga masyarakat.

Menurutnya, upaya mitigasi tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana telah terjadi. Persiapan harus dimulai sejak dini melalui edukasi, penyebarluasan informasi cuaca dan peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, serta kesiapan jalur evakuasi dan mekanisme penanganan darurat.

Ia berharap, melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi 2026, kesadaran masyarakat Kota Ambon semakin meningkat dan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama membangun ketangguhan menghadapi berbagai ancaman bencana.

“Saya rasa dengan membangun kewaspadaan dari sekarang dan melakukan antisipasi oleh pemerintah, baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi, kita bersama-sama membangun kesadaran untuk menghadapi bencana dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Kota Ambon maupun Provinsi Maluku,” tutupnya.

BMKG berharap, sinergi antara pemerintah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pengurangan risiko bencana sehingga dampak terhadap keselamatan jiwa, lingkungan, dan aktivitas sosial ekonomi dapat diminimalkan. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan