Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Pengalaman gempa bumi yang mengguncang Kota Ambon pada 2019 menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengatakan respons masyarakat saat gempa terjadi menunjukkan bahwa kesadaran untuk menyelamatkan diri sudah mulai terbentuk. Namun, kesadaran tersebut harus diperkuat melalui edukasi dan latihan yang terarah agar masyarakat tidak hanya bereaksi secara spontan, tetapi juga memahami tindakan yang benar.
Hal itu disampaikan Bodewin saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi 2026 di Kantor Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026).
Ia menceritakan, ketika gempa besar terjadi pada 2019, banyak warga bergegas meninggalkan kawasan permukiman dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Respons tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki kewaspadaan terhadap potensi ancaman gempa dan tsunami.
Meski demikian, menurutnya, tindakan penyelamatan diri harus didukung pengetahuan yang memadai. Masyarakat perlu mengetahui kapan harus melakukan evakuasi, ke mana harus bergerak, serta bagaimana mengikuti arahan keselamatan ketika terjadi bencana.
“Kalau kita terbiasa melakukan simulasi-simulasi, masyarakat akan terbiasa menghadapi situasi darurat. Kita berharap melalui sekolah lapang seperti ini, masyarakat Kota Ambon menjadi masyarakat yang tangguh menghadapi gempa bumi,” kata Bodewin.
Ia menilai edukasi kebencanaan semakin penting karena sebagian kawasan permukiman di Kota Ambon berada di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak apabila terjadi tsunami.
Karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan pengetahuan masyarakat melalui pemasangan rambu-rambu evakuasi, kegiatan sosialisasi, serta kerja sama lintas sektor dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana.
Pemerintah Kota Ambon juga telah bekerja sama dengan BMKG dan UNESCO dalam sejumlah program pengurangan risiko bencana. Salah satunya melalui program Tsunami Ready di Negeri Galala dan Hative Kecil.
Menurut Bodewin, kesiapsiagaan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga yang menangani kebencanaan. Setiap keluarga perlu memahami langkah-langkah penyelamatan diri, sementara masyarakat harus memiliki kepedulian untuk saling membantu dalam situasi darurat.
Ia berharap Sekolah Lapang Gempa Bumi 2026 dapat memperkuat kesadaran masyarakat di wilayah sasaran sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bodewin juga menekankan bahwa tujuan utama mitigasi bencana bukan semata-mata mengurangi kerusakan bangunan, melainkan melindungi keselamatan manusia.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengurangi risiko dan mencegah jatuhnya korban jiwa. Itu dapat dilakukan jika masyarakat teredukasi dan memahami dengan baik cara menyelamatkan diri ketika gempa bumi dan tsunami terjadi,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan pengalaman bencana masa lalu sebagai pelajaran untuk membangun budaya sadar bencana, termasuk dengan mengenali jalur evakuasi dan mengikuti prosedur keselamatan yang telah disiapkan pemerintah.
Dengan kesiapsiagaan yang terus dibangun, Pemerintah Kota Ambon berharap masyarakat tidak mudah panik, mampu mengambil keputusan yang tepat, dan lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa mendatang. (BN Grace)










