Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Ambon masih menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan. Data Dashboard Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan tahun 2026 mencatat sebanyak 1.542 notifikasi TBC, termasuk 21 kasus TBC Resisten Obat (TBC-RO).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, saat diwawancarai melalui WhatsApp, Senin (2/11/2026), menjelaskan bahwa penanganan TBC membutuhkan upaya berkelanjutan, mulai dari penemuan kasus, pemeriksaan dini, pelacakan kontak erat hingga memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur.
Menurutnya, penanganan TBC tidak bisa hanya dilakukan dengan mengobati pasien yang sudah dinyatakan positif. Pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita juga penting untuk menemukan kemungkinan penularan sejak dini.
Ia menjelaskan, pelacakan atau tracking menjadi salah satu langkah penting untuk memutus mata rantai penyebaran TBC di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Berdasarkan data SITB 2026, dari 1.542 notifikasi TBC, sebanyak 1.521 merupakan TBC Sensitif Obat (TBC-SO), sedangkan 21 lainnya merupakan TBC Resisten Obat (TBC-RO).
Sementara pasien yang telah memulai pengobatan tercatat sebanyak 1.338 orang, terdiri dari 1.323 pasien TBC-SO dan 15 pasien TBC-RO.
Dashboard tersebut juga mencatat 6.233 orang terduga TBC, dengan 5.197 orang telah menjalani pemeriksaan sesuai standar.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya tantangan pengendalian TBC di Ambon. Apalagi, penyakit ini dapat menular melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan bakteri saat batuk, bersin maupun berbicara.
Tren penemuan kasus dalam tiga tahun terakhir juga masih menunjukkan angka yang tinggi. Pada 2023 tercatat 1.935 kasus, meningkat menjadi 2.296 kasus pada 2024, kemudian 2.212 kasus pada 2025.
Kecamatan Sirimau menjadi salah satu wilayah dengan penemuan kasus tertinggi. Pada 2025, wilayah tersebut mencatat 620 kasus TBC. Sementara kelompok usia produktif 20–59 tahun mendominasi penderita.
Kondisi ini menunjukkan bahwa TBC bukan sekadar persoalan kesehatan individu, tetapi juga ancaman bagi produktivitas masyarakat dan ketahanan keluarga.
Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TBC, terutama batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam, serta berkeringat pada malam hari. Pemeriksaan sejak dini sangat diperlukan agar penderita segera mendapatkan penanganan.
Selain pemeriksaan dan pengobatan, dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan. Pasien harus menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga medis sampai tuntas agar risiko kekambuhan dan resistensi obat dapat ditekan.
Dengan masih tingginya angka notifikasi dan ditemukannya kasus TBC resisten obat, penguatan tracking, skrining, edukasi, serta pengawasan pengobatan menjadi pekerjaan penting yang harus terus dilakukan Dinas Kesehatan Kota Ambon bersama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat. (BN Grace)









