Wali Kota Ambon Dorong Budaya Menabung Sejak Dini, Ambon Raih Juara I Inklusi Keuangan Nasional

IMG 4140 scaled

Editor: Redaksi

AMBON, Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota Ambon terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan pelajar, melalui pembiasaan menabung sejak usia dini.

Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengatakan, menabung bukan sekadar aktivitas menyimpan uang, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun kedisiplinan sekaligus mempersiapkan masa depan.

Hal tersebut disampaikan Wattimena dalam kegiatan puncak Bulan Literasi Keuangan Goes to School yang digelar di SD Negeri 4 Ambon, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, kebiasaan menyimpan uang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu, meskipun belum melalui lembaga perbankan. Namun, seiring perkembangan zaman, kebiasaan tersebut diarahkan ke sistem perbankan agar uang tersimpan lebih aman sekaligus dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masa depan.

“Menabung bukan hanya soal menyimpan uang, tetapi juga bagaimana kita membiasakan diri untuk membangun disiplin. Kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan, tetapi juga sebenarnya kita sementara merancang masa depan lewat kegiatan menabung,” kata Wattimena.

Ia menjelaskan, kebiasaan menabung menjadi semakin penting karena tidak semua anak yang memiliki kemampuan intelektual dan prestasi akademik dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi apabila terkendala persoalan ekonomi.

Menurutnya, terdapat anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa dan mampu menggapai cita-cita setinggi-tingginya, tetapi terpaksa menghadapi keterbatasan karena kondisi ekonomi keluarga.

“Banyak anak-anak kita hari ini yang dari sisi kemampuan intelektual luar biasa dan bisa menggapai ilmu setinggi-tingginya, menggapai cita-cita. Tetapi karena orang tuanya tidak memiliki uang, tidak memiliki tabungan, mungkin dia tidak mampu untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi,” ujarnya.

Karena itu, Wattimena mengajak para pelajar untuk mulai membangun kebiasaan menabung sejak dini. Menurutnya, uang yang disisihkan secara rutin akan memberikan manfaat ketika anak-anak membutuhkan biaya untuk pendidikan maupun kebutuhan penting lainnya di masa depan.

Ia menilai, menyimpan uang di lembaga perbankan juga memberikan rasa aman karena dikelola oleh pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjaga dana nasabah.

“Kalau anak-anak hari ini dari mulai usia gini sudah terbiasa untuk menabung, yang pertama uang aman karena disimpan oleh pihak yang memang bertugas untuk menyimpan uang. Tetapi setelah uangnya aman, pada saatnya uang itu bisa digunakan oleh anak-anak sekalian untuk masa depan,” katanya.

Wattimena juga menyinggung berbagai kondisi yang dapat terjadi dalam kehidupan keluarga, seperti kecelakaan kerja maupun meninggalnya orang tua, yang dapat berdampak terhadap keberlangsungan pendidikan anak.

Menurutnya, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai pihak terus berupaya memperkuat perlindungan sosial dan ekonomi masyarakat agar kondisi tersebut tidak berujung pada anak putus sekolah maupun meningkatnya kemiskinan ekstrem.

“Untuk menjaga jangan sampai terjadi hal-hal seperti yang tadi saya sampaikan, putus sekolah, miskin ekstrem, dan seterusnya,” ujarnya.

Dorong Satu Pelajar Satu Rekening

Dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, Pemerintah Kota Ambon bekerja sama dengan OJK Provinsi Maluku serta sektor perbankan untuk terus melakukan edukasi keuangan di sekolah-sekolah dan berbagai komunitas masyarakat.

Wattimena mengatakan, Pemkot Ambon sebelumnya telah mendorong para siswa SD dan SMP di Kota Ambon untuk memiliki rekening melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).

Program tersebut, kata dia, diharapkan dapat membentuk kebiasaan menabung sekaligus memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya mengelola uang secara bijak.

“Harapannya semua memiliki tabungan, anak-anak pelajar bisa menyimpan uang, bisa hemat, supaya untuk kepentingan hidup atau kebutuhan masa depan mereka,” tuturnya.

Dalam kegiatan Goes to School tersebut, CIMB Niaga turut membuka rekening bagi siswa SD Negeri 4 Ambon dan SD Negeri 65 Ambon.

Wattimena mengatakan, program tersebut bukan sekadar membuka rekening, tetapi harus menjadi sarana pembelajaran agar anak-anak memahami alasan mereka perlu menabung.

“Tujuannya untuk mengajarkan anak-anak, mengajari anak-anak supaya berhemat, bisa menabung untuk masa depan mereka,” katanya.

Ia berharap para siswa tidak hanya menabung karena diperintahkan oleh guru atau orang tua, tetapi benar-benar memahami manfaat dari kebiasaan tersebut.

Menurutnya, literasi keuangan harus membuat anak-anak mengetahui untuk apa mereka menabung dan bagaimana tabungan tersebut dapat membantu kehidupan mereka di masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Wattimena juga menyampaikan kabar mengenai keberhasilan Kota Ambon meraih penghargaan sebagai juara pertama tingkat nasional dalam bidang inklusi keuangan.

Ia mengatakan, Kota Ambon sebelumnya masuk dalam tiga besar bersama Kota Bandung dan Cirebon. Setelah melalui tahapan pemaparan di hadapan tim juri, Kota Ambon berhasil keluar sebagai pemenang.

“Besok Kota Ambon menerima penghargaan juara satu nasional, juara satu nasional inklusi keuangan. Kita kemarin final dengan tiga besar dengan Kota Bandung dan Cirebon. Kita paparkan di depan para juri dan syukurlah bahwa Kota Ambon keluar sebagai juara satu,” ungkapnya.

Wattimena menegaskan, penghargaan tersebut bukan semata-mata menjadi alasan untuk berbangga, tetapi merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras seluruh pihak dalam meningkatkan pemahaman dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

“Bukan soal penghargaan yang saya mau bilang, tetapi kerja keras kita. Kerja keras kita untuk memastikan bahwa Kota Ambon ini kota yang masyarakatnya terdidik, belajar soal keuangan dan juga keuangan itu mencakup semua,” katanya.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi Pemkot Ambon, OJK, perbankan, sekolah, komunitas, serta seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

Wattimena juga mengingatkan para siswa bahwa menabung tidak harus dimulai dengan jumlah uang yang besar. Menurutnya, menyisihkan sebagian kecil uang jajan secara rutin sudah menjadi langkah positif untuk membangun kebiasaan finansial.

Ia mencontohkan, apabila seorang anak mendapatkan uang jajan Rp10 ribu, tidak perlu seluruhnya digunakan untuk membeli makanan atau keperluan lainnya. Sebagian kecil, seperti Rp2 ribu, dapat disisihkan untuk ditabung.

“Kalau orang tua kasih uang jajan Rp10 ribu, tidak usah banyak-banyak. Anak-anak bisa menabung Rp2 ribu saja, itu sudah luar biasa. Dan kalau ini dilakukan setiap hari secara rutin, mereka terbiasa menabung,” ujarnya.

Wattimena kemudian mengingatkan para siswa dengan pepatah yang sudah dikenal sejak lama sebagai bagian dari pendidikan karakter.

“Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya,” serunya kepada para siswa.

Ia pun mengajak seluruh siswa untuk menjadikan menabung sebagai kebiasaan sehari-hari, sehingga sejak usia sekolah mereka telah memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta merencanakan masa depan.

Menurutnya, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sejak dini dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan anak-anak di kemudian hari. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan