Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota Ambon terus menunjukkan komitmennya dalam upaya pencegahan kanker serviks melalui program vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) yang dilaksanakan secara gratis bagi anak sekolah. Program ini terintegrasi dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan menjadi bagian dari kebijakan nasional yang merujuk pada standar global yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Stefanus Norimarna, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (14/4/2026), menjelaskan bahwa vaksinasi HPV difokuskan pada anak usia 9–14 tahun. Kelompok usia ini dinilai paling optimal menerima manfaat vaksin karena diberikan sebelum paparan virus terjadi.
“Vaksin ini paling efektif diberikan sebelum seseorang terpapar virus HPV. Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, efektivitasnya bisa mencapai lebih dari 90 persen dalam mencegah lesi prakanker,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini vaksinasi HPV telah menggunakan skema dosis tunggal (single dose) yang tetap memberikan perlindungan optimal. Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas cakupan vaksinasi di tengah keterbatasan sumber daya.
Menariknya, tahun ini program vaksinasi tidak hanya menyasar anak perempuan, tetapi juga mulai diperluas kepada anak laki-laki. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif, mengingat laki-laki juga berperan dalam penularan HPV serta berisiko terkena penyakit terkait virus tersebut.
“Dengan memperluas cakupan ke anak laki-laki, kita berharap tercapai perlindungan populasi atau herd immunity yang lebih kuat,” tambah Norimarna.
Dari sisi pembiayaan, vaksinasi HPV dalam program BIAS diberikan secara gratis karena dibiayai oleh pemerintah sebagai bagian dari program imunisasi nasional. Namun, untuk kelompok usia dewasa (15–60 tahun), vaksinasi tidak termasuk dalam program tersebut dan umumnya dilakukan secara mandiri di fasilitas layanan kesehatan.
Meski demikian, vaksinasi pada usia dewasa masih dapat memberikan manfaat terbatas, terutama jika dikombinasikan dengan pemeriksaan skrining seperti IVA atau Pap smear guna mendeteksi dini potensi kanker serviks.
Terkait keamanan, Dinas Kesehatan memastikan bahwa seluruh vaksin yang digunakan telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memenuhi standar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Distribusi vaksin dilakukan melalui sistem rantai dingin dengan suhu terkontrol 2–8 derajat Celsius untuk menjaga kualitasnya.
Selain itu, setiap pelaksanaan imunisasi dilengkapi dengan sistem pemantauan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) untuk memastikan keamanan peserta, mulai dari observasi langsung hingga pelaporan berjenjang.
Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan angka kanker serviks di Indonesia, dengan target global mencapai cakupan vaksinasi minimal 90 persen pada anak perempuan sebelum usia 15 tahun.
“Ini adalah investasi kesehatan jangka panjang. Dengan vaksinasi sejak dini, kita bisa melindungi generasi muda dan menurunkan beban kanker di masa depan,” tutup Norimarna. (BN Grace)





