Tanam Fondasi Jurnalistik Sejak Remaja, Anak-anak Hutumuri Diajak Berani Angkat Isu di Lingkungan

IMG 4079
Screenshot

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Menanamkan fondasi jurnalistik sejak usia remaja menjadi salah satu langkah penting untuk membentuk generasi muda yang berani, kritis dan memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan pelatihan jurnalistik yang digelar bagi anak-anak dan remaja di Negeri Hutumuri, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Senin (25/8/2026).

Jurnalis Senior Media Bedahnusantara.com, Stev Palijama, mengatakan pelatihan tersebut tidak sekadar memperkenalkan jurnalistik secara teori, tetapi juga mendorong anak-anak untuk memiliki keberanian dalam melihat, bertanya dan mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Tema pelatihan jurnalistik hari ini yaitu menanamkan fondasi jurnalistik pada tingkat anak remaja yang punya keberanian, bahkan rasa ingin tahu yang luar biasa terhadap apa itu jurnalistik,” ujar Stev saat diwawancarai usai kegiatan di Gereja Hutumuri, Senin (25/8/2026).

Menurutnya, rasa ingin tahu yang dimiliki anak-anak dan remaja merupakan modal penting dalam dunia jurnalistik. Sebab, seorang jurnalis harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan tidak takut untuk bertanya ketika menemukan sesuatu yang dianggap penting.

Karena itu, materi dalam pelatihan diarahkan agar peserta tidak hanya memahami jurnalistik sebagai aktivitas menulis berita, tetapi juga mampu melihat persoalan di sekitar mereka sebagai sebuah isu yang dapat dipelajari dan disampaikan kepada masyarakat.

Stev menjelaskan, isu yang diangkat dalam pelatihan juga disesuaikan dengan kondisi dan kehidupan sehari-hari para peserta. Dengan demikian, anak-anak dapat lebih mudah memahami bagaimana sebuah peristiwa dapat dilihat dari perspektif jurnalistik.

“Isu-isu yang akan diangkat juga berkaitan dengan situasi dan kondisi yang berhubungan dekat dengan mereka,” katanya.

Ia mencontohkan sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh para pengasuh di GBM Timuri. Berbagai kegiatan tersebut, seperti pengenalan kuliner maupun kegiatan ulang tahun, dapat menjadi objek pembelajaran bagi anak-anak untuk mulai mengenal bagaimana sebuah kegiatan diamati, dicatat dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah informasi.

Namun, pelatihan jurnalistik tidak hanya diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial. Peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah persoalan sosial yang lebih spesifik dan berkaitan langsung dengan kehidupan remaja.

Di antaranya persoalan kenakalan remaja, kecenderungan anak-anak dan remaja terlibat dalam kelompok atau geng, hingga dampak yang dapat ditimbulkan terhadap pendidikan, perilaku di lingkungan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.

Menurut Stev, isu-isu tersebut penting diperkenalkan sejak dini agar anak-anak tidak hanya menjadi pihak yang melihat persoalan, tetapi juga mampu memahami penyebab, dampak dan bagaimana persoalan tersebut dapat dicegah.

“Misalnya seperti kenakalan remaja, kemudian kecanduan anak-anak remaja terkait geng, dampaknya kepada pendidikan mereka, dampaknya kepada perilaku di lingkungan keluarga ataupun masyarakat,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mulai memiliki kemampuan untuk mengamati lingkungan secara lebih kritis. Mereka diajak membedakan antara sekadar melihat sebuah peristiwa dengan memahami nilai informasi yang terkandung di dalamnya.

Selain isu sosial, pelatihan juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan adat dan budaya. Hal ini dinilai penting mengingat Hutumuri merupakan salah satu negeri adat di Kota Ambon yang memiliki identitas, tradisi dan nilai-nilai budaya yang perlu terus dijaga oleh generasi muda.

Stev mengatakan, isu pelestarian adat istiadat dan ciri khas Negeri Hutumuri menjadi salah satu tema yang penting untuk diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini.

“Termasuk juga soal, karena mengingat ini Hutumuri adalah negeri adat, itu juga mengambil tema atau isu yang berkaitan dengan pelestarian adat istiadat atau ciri khas Negeri Hutumuri sendiri untuk mulai dipahami dan dijaga secara baik sejak usia dini dari anak-anak itu sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran besar dalam memastikan nilai-nilai adat tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dan menceritakan kembali identitas negerinya melalui tulisan maupun produk jurnalistik lainnya.

Dengan belajar jurnalistik, anak-anak dapat mendokumentasikan berbagai cerita tentang negeri mereka, mulai dari tradisi, budaya, kuliner, kegiatan masyarakat hingga persoalan sosial yang dihadapi generasi muda.

Hal tersebut sekaligus membuat jurnalistik tidak hanya menjadi keterampilan teknis, tetapi juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan, memahami identitas mereka dan ikut menjaga warisan budaya.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki keberanian untuk menyampaikan fakta, memiliki rasa ingin tahu, serta mampu menggunakan kemampuan jurnalistik secara positif.

Lebih jauh, pembelajaran jurnalistik sejak usia remaja juga diharapkan dapat membangun budaya literasi dan berpikir kritis. Anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi mulai belajar mempertanyakan sumber informasi, memastikan kebenaran dan memahami dampak dari informasi yang mereka sebarkan.

Dengan demikian, fondasi jurnalistik yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk berkembang menjadi generasi yang peka terhadap persoalan sosial, peduli terhadap lingkungan dan memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

Khusus bagi anak-anak di Negeri Hutumuri, kemampuan tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga identitas negeri adat agar tetap hidup dan dipahami oleh generasi penerus.

Pelatihan jurnalistik akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menulis sebuah berita, tetapi juga bagaimana membentuk keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk melihat persoalan dan kepedulian untuk menjaga lingkungan sosial serta budaya yang ada di sekitar mereka. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan