Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Pekan Kreativitas Anak Remaja GPMH Hutumuri menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, membangun kepekaan terhadap lingkungan, sekaligus memperkuat karakter dan nilai-nilai iman.
Mengusung tema “Muda Berkreasi, Tumbuh di Akar Budaya, dan Berbuah dalam Iman”, kegiatan tersebut dikemas melalui kurang lebih sembilan pojok kreativitas yang memberikan kesempatan kepada anak dan remaja untuk belajar sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Pojok Jurnalistik, yang dirancang untuk memperkenalkan anak dan remaja pada dasar-dasar jurnalistik, terutama bagaimana melihat sebuah peristiwa, menggali informasi, menyusun pertanyaan, hingga menyampaikan informasi kepada publik berdasarkan fakta.
Eby Waas, selaku Pengasuh SMTPI Hutumuri, saat diwawancarai di Gereja Hutumuri, Selasa (25/8/2026), mengatakan Pojok Jurnalistik dihadirkan bukan sekadar untuk mengajarkan anak-anak menulis berita, tetapi lebih jauh membangun kemampuan mereka dalam memahami dan menyaring informasi.
Menurutnya, anak dan remaja perlu dibekali kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, terutama di tengah derasnya arus informasi saat ini.
“Harapan saya melalui Pekan Kreativitas ini, terlebih khusus di Pojok Jurnalistik ini, anak-anak remaja GPMH Hutumuri lebih peka untuk melihat informasi, mendengarkan informasi atau menyampaikan informasi kepada publik,” ujar Eby.
Ia menjelaskan, melalui materi jurnalistik yang diberikan, peserta diarahkan agar mampu memformulasikan kalimat dengan baik, menentukan tujuan, menyusun pertanyaan, serta menggali informasi dari narasumber secara tepat.
Kemampuan tersebut dinilai penting karena sebuah berita tidak boleh dibangun berdasarkan perkiraan, asumsi, apalagi informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Eby berharap, peserta mampu memahami bahwa ketika mereka melihat maupun mendengar sebuah peristiwa, informasi tersebut harus terlebih dahulu digali dan dikonfirmasi sebelum disampaikan kepada orang lain.
“Dari materi hari ini, anak-anak sudah bisa pandai memformulasikan kalimat atau menyampaikan tujuan, pertanyaan dan lainnya, kemudian mengemas semuanya itu menjadi berita yang memang benar-benar terjadi. Jadi bukan seperti berita yang hoaks,” jelasnya.
Menurut Eby, proses belajar tersebut dimulai dari pengalaman langsung. Anak-anak diberikan kesempatan untuk melihat situasi, kemudian belajar menyusun pertanyaan dan menyampaikannya kepada narasumber.
Dengan metode seperti itu, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga belajar bagaimana seorang jurnalis bekerja ketika mencari informasi.
“Ketika mereka mendengarkan sesuatu, mereka melihat sesuatu, mereka bisa pandai untuk menyampaikan sesuai dengan data yang tepat. Itu berawal dari bagaimana mereka diberikan kesempatan untuk melihat situasi, kemudian memberikan pertanyaan, menyampaikan informasi atau menanyakan pertanyaan kepada narasumber dengan tepat,” katanya.
Lebih jauh, Eby menilai kemampuan jurnalistik dapat menjadi salah satu bekal penting bagi anak dan remaja dalam menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurutnya, generasi muda saat ini berada dalam lingkungan informasi yang sangat cepat. Setiap orang dapat menerima sekaligus menyebarkan informasi hanya melalui telepon genggam. Karena itu, kemampuan untuk memeriksa dan memahami informasi menjadi hal yang sangat penting.
Melalui Pojok Jurnalistik, anak-anak diharapkan tidak terburu-buru mempercayai maupun menyebarkan informasi yang mereka terima. Mereka justru didorong untuk bertanya, mencari sumber, melakukan konfirmasi, dan memastikan data sebelum menyampaikan informasi kepada publik.
Hal tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter, sebab menyampaikan informasi kepada orang lain juga merupakan bentuk tanggung jawab.
Pekan Kreativitas Anak Remaja GPMH Hutumuri melibatkan peserta dari berbagai jenjang dalam subjenjang pelayanan anak dan remaja.
Peserta berasal dari Anak Tanggung 1, Anak Tanggung 2, Anak Tanggung 3, serta Remaja 1, Remaja 2 dan Remaja 3.
Sementara untuk anak batita dan balita, mereka tidak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari. Namun, kelompok tersebut telah mengambil bagian dalam kegiatan tunas melalui berbagai kegiatan kreativitas yang disiapkan oleh tim.
Menurut Eby, pembagian jenjang tersebut dilakukan agar materi dan kegiatan dapat disesuaikan dengan usia serta kemampuan peserta.
Dengan demikian, Pekan Kreativitas bukan hanya menjadi kegiatan hiburan, tetapi menjadi ruang pendidikan yang memungkinkan anak dan remaja mengembangkan minat, bakat, keberanian, kemampuan berkomunikasi, sekaligus membangun kepekaan sosial.
Khusus melalui Pojok Jurnalistik, peserta diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya kreatif dalam menghasilkan karya, tetapi juga kritis dalam menerima informasi dan bertanggung jawab ketika menyampaikannya kepada masyarakat.
Eby menegaskan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah agar anak dan remaja GPMH Hutumuri memiliki kemampuan untuk melihat persoalan di sekitarnya dengan lebih peka, mendengarkan informasi dengan baik, kemudian mengolahnya secara benar sebelum disampaikan kepada publik.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan tema “Muda Berkreasi, Tumbuh di Akar Budaya, dan Berbuah dalam Iman”, dengan harapan kreativitas anak dan remaja tidak hanya berkembang dalam bidang seni maupun keterampilan, tetapi juga dalam kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta memberikan kontribusi positif bagi gereja dan masyarakat.
Dengan adanya Pojok Jurnalistik, anak dan remaja GPMH Hutumuri diharapkan tumbuh sebagai generasi muda yang berani bertanya, mampu menyaring informasi, menjunjung kebenaran, serta memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Bagi Eby, kemampuan tersebut merupakan bekal penting agar anak dan remaja tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu menjadi penyampai informasi yang benar, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat. (BN Grace)





