OJK Maluku Gelar Bastori 

IMG 20260313 WA0029

Editor: Redaksi 

Ambon, Bedahnusantara.com: Dalam upaya memperkuat komunikasi publik serta meningkatkan literasi sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menyelenggarakan kegiatan OJK Maluku Bastori, sebuah forum penyampaian informasi terkini mengenai perkembangan sektor jasa keuangan di wilayah Maluku kepada insan media.

Kegiatan yang berlangsung di Kota Ambon ini juga dirangkaikan dengan edukasi keuangan syariah yang menghadirkan narasumber dari berbagai Lembaga Jasa Keuangan (LJK) Syariah di Provinsi Maluku. Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama para jurnalis yang hadir sebagai bentuk mempererat silaturahmi antara OJK dan media.

Kepala OJK Provinsi Maluku, Andi Muhamad Yusuf, mengatakan bahwa media memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan literasi dan inklusi keuangan di daerah. Menurutnya, kegiatan Bastori menjadi ruang berbagi informasi sekaligus diskusi santai mengenai dinamika perkembangan sektor jasa keuangan yang tetap berbasis data dan fakta.

“Keterbukaan informasi adalah pondasi kepercayaan. Melalui Bastori, kami ingin memastikan publik mendapatkan informasi sektor jasa keuangan yang kredibel, kontekstual, dan mudah dipahami,” ujarnya.

OJK mencatat kinerja sektor perbankan di Maluku pada Januari 2026 menunjukkan perkembangan yang positif. Total aset perbankan tercatat mencapai Rp33,98 triliun atau tumbuh sebesar 7,11 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp16,98 triliun serta penyaluran kredit yang mencapai Rp19,48 triliun.

Komposisi DPK di Maluku masih didominasi oleh CASA atau tabungan dan giro sebesar 70,14 persen. Sementara itu, penyaluran kredit didominasi oleh kredit konsumtif yang mencapai 63,19 persen dari total kredit.

Dalam mendukung pelaku usaha, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Desember 2025 tercatat mencapai Rp1,03 triliun yang disalurkan kepada 21.840 pelaku UMKM di wilayah Maluku. Dari sisi kualitas kredit, kondisi tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau NPL gross sebesar 2,82 persen.

Sementara pada sektor perbankan syariah, pembiayaan tumbuh cukup signifikan yakni 20,54 persen secara tahunan (yoy) dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) yang tetap rendah sebesar 0,86 persen. Meski demikian, pangsa aset perbankan syariah di Maluku saat ini masih berada pada angka 3,03 persen dari total aset perbankan.

Pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp1,35 triliun dengan rasio NPF sebesar 2,43 persen. Namun demikian, premi asuransi jiwa mengalami penurunan sebesar 7,75 persen, sementara premi asuransi umum turun 13,21 persen secara tahunan.

Di sektor pembiayaan ultra mikro, program Mekaar telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp283,10 miliar kepada 53.038 nasabah perempuan. Program ULaMM juga mencatat penyaluran sebesar Rp14,46 miliar atau tumbuh 34,76 persen. Sementara itu, Bank Wakaf Mikro telah menyalurkan pembiayaan kepada 121 nasabah.

Perkembangan layanan keuangan digital juga menunjukkan peningkatan. Outstanding peer-to-peer lending tercatat mencapai Rp220,92 miliar dengan jumlah borrower sebanyak 33.426 orang.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Maluku tercatat sebanyak 64.461 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 21,60 persen secara tahunan. Nilai transaksi saham juga meningkat signifikan sebesar 52,51 persen menjadi Rp680,07 miliar.

OJK Maluku juga terus memperkuat layanan konsumen. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 1.133 layanan konsumen telah ditangani, yang terdiri dari 775 pertanyaan, 162 pengaduan, dan 196 permintaan informasi.

Mayoritas pengaduan berasal dari sektor pinjaman daring, perbankan konvensional, serta perusahaan pembiayaan.

Dalam aspek literasi, OJK Maluku telah menyelenggarakan 382 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 90.292 peserta, termasuk masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain program Desaku Cakap Keuangan di Tual, Kick Off Bulan Literasi Keuangan, hingga Bulan Inklusi Keuangan di Kabupaten Maluku Tengah.

Selain itu, OJK juga mengembangkan inisiatif OJK PEDULI (Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia) yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti pemuda, guru, tokoh agama, hingga jurnalis.

“Kami akan membentuk Duta Literasi Keuangan di Maluku, salah satunya berasal dari media lokal,” kata Andi.

Memasuki bulan suci Ramadan, OJK Maluku turut menyelenggarakan program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 yang diluncurkan secara nasional pada 26 Februari 2026.

Berbagai kegiatan literasi keuangan syariah dilaksanakan dalam rangkaian program tersebut, antara lain Training of Trainers (ToT) bagi penyuluh agama Islam, program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SICANTIKS), Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH), hingga edukasi keuangan syariah kepada pelajar dan santri.

Selain itu, OJK juga melakukan edukasi melalui podcast komunitas, dialog televisi bersama TVRI Maluku, hingga sosialisasi perencanaan keuangan melalui lomba Fin Da’i Cilik.

OJK juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap investasi ilegal dan berbagai modus penipuan transaksi keuangan digital yang terus berkembang.

Masyarakat diimbau menerapkan prinsip LEGAL dan LOGIS sebelum melakukan investasi. Sebagai upaya perlindungan konsumen, OJK bersama Satgas PASTI telah membentuk Indonesia Anti-Scam Center (IASC) yang bertugas menangani laporan penipuan keuangan, termasuk memfasilitasi pemblokiran rekening dan penundaan transaksi oleh pelaku usaha jasa keuangan.

Melalui kegiatan Bastori, OJK Maluku berkomitmen untuk terus membangun ruang komunikasi publik yang terbuka, memperkuat literasi dan inklusi keuangan, serta mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pertumbuhan sektor jasa keuangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Maluku. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan