Ambon, Bedahnusantara.com: Organisasi adalah sebuah wadah berhimpun dan berkumpulnya sejumlah orang dengan latar belakang pemikiran dan wawasan yang berbeda-beda namun dengan satu tujuan yang pasti yakni belajar dan memajukan organisasi tersebut.
![]() |
| Edison Lapalelo: Peneliti Parameter Research Consultan |
Dalam prosesnya sering kali terjadi perbedaan sudut pandang atau silang pendapat diantara para anggota maupun pengurus, namun hal tersebut adalah wajar dalam mekanisme berorganisasi.
Hal tersbut juga turut mewarnai pelaksanaan Kegiatan Kongres Angkatan Muda Greja Protestand Maluku (AMGPM) Ke-29 Di Wayame, Kota Ambon.
Menyikpai hal tersebut Owner Rumah Gerakan Maranatha 24 (M24), Edison Lapalelo ketika dimintai tanggapannya mengungkapkan; ” Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat berkongres kepada semua delegasi atau utusan yang datang dari berbagai daerah ke Kota Ambon, sebab para delegasi atau utusan yang menghadiri pelaksanaan Kongres ke-29 AMGPM ini, merupakan perwakilan dari kami semua yang adalah kader dan pemuda GPM,”.
Oleh sebab itu kami meyakini sungguh bahwasannya, Angkatan Muda Greja Protestand Maluku (AMGPM), adalah organisasi besar dengan basis dan keanggotaan yang jelas, baik secara kader dari tingkatan Ranting, Cabang, Daerah, dan sampai kepada Pengurus Besar (PB).
” Dan karena itu bagi saya, perbedaan pendapat atau dinamika dalam organisasi, adalah sesuatu hal yang wajar dan itu biasa, apalagi hal ini terjadi dalam situasi kongres, bagi saya hal itulah yang membuat AMGPM berbeda dan berkualitas. Sebab sebuah dinamika memberi pesan dan kesan kepada semua orang, bahwa AMGPM itu bukan organisasi biasa, dan para kadernya juga bukan kaleng-kaleng,” Ungkap Lapalelo.
Lapalelo menerangkan, jika hari ini ada sebuah dinamika dalam proses kongres, terkait celon pemimpin tertinggi di dalam AMGPM, tentunya hal itu sudah menjadi kewajaran. Sebab semua orang siapapun dia, tentunya menginginkan adanya pemimpin yang terbaik untuk menahkodai organisasi besar seperti AMGPM ini.
” Terkait dinamika yang sementara mencuat di publik, yakni soal “Matarumah Parentah ” dengan kata lain bahwa yang mesti menjadi ketua umum dan sekretaris umum AMGPM itu harus berlatar belakang seorang Pendeta (Pdt). Saya kira ini bukanlah hal yang baru, bagi saya hal ini adalah sebuah ” lagu lama, kaset lama” yang kemudian diputar kembali, dan itu sah-sah saja. Akan tetapi perlu diingat juga secara baik bahwasannya, dalam sejarah AMGPM tidak selamanya oraganisasi ini dipimpin oleh oleh dengan latar belakang pendeta, namun ada juga orang yang tidak berlatar belakang pendeta, pernah memimpin AMGPM dalam jabatan ketua umum (Ketum). dalam ini adalah Bapak. Lucky Wattimury yang adalah bukan seorang pendeta, akan tetapi beliau dipilih dan terpilih sebagai Ketua Umum AMGPM,” Terang Lapalelo yang juga seorang peneliti dari Parameter Researchers Consultan.
Karena itu kata Lapalelo, sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa, dinamika itu hal yang biasa dalam oragani sasi, akan tetapi janganlah kemudian ada orang yang mencoba menjadikan dinamika itu sebagai alat atau wadah untuk merusak organisasi AMGPM ini. Apalagi tindakan-tindakan tersebut adalah sikap dari orang-orang yang mencoba menjadikan dirinya seolah-olah dia adalah Tuhan, yang kemudian mampu mengatur dan menentukan segalanya.
” Siapapun punya hak untuk menyatakan pilihan dan keberpihakan dalam proses ini, baik itu dalam hal menjadi (good father) atau apapun silahkan saja. akan tetapi jangan kemudian memanfaatkan situasi (dinamika) terkait matarumah parentah, sebagai wadah untuk melakukan gerakan-gerakan tambahan yang berujung kepada memecah belah AMGPM demi memuluskan kepentingan mereka,” Tegas Lapalelo.
Sebab bagi saya tambahnya, siapapun yang nantinya dipilih dan terpilih sebagai ketua umum dan sekretaris umum AMGPM, hal itu adalah hasil dari keputusan bersama dalam kongres. sehingga silakan saja setiap orang menunjukan ekspresi dan keberpihakannya kepada kandidat tertentu sepanjang itu masih dalam koridor kewajaran.
” Karena ini bukan soal Pendeta non Pendeta, atau kalangan diluar Pendeta, akan tetapi perihal keterpilihan seseorang menjadi Ketum dan Sekum, itu adalah bagian dari hak prerogratif dari sang pemilik kehidupan, sang kepala gerakan, sang kepala Organisasi, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Oleh sebab itu janganlah kemudian ada orang yang mencoba menunjukan bahwa dialah yang paling berjasa atau paling menentukan untuk masalah ketum dan sekum, sebab sekali lagi saya ingin menegaskan, Jabatan itu punya Tuhan dan milik Tuhan, sehingga jika Beliau (Tuhan Yesus) ingin memberikannya kepada seseorang itu adalah hak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat oleh apapun dan siapapaun,” Tandasnya.
Oleh karenanya, marilah kita berkongres dengan baik dan tetap menunjukan sikap dan perilaku yang mencerminkan moto AMGPM sebagai ” Garda Tedu”. Sebab lewat hidup kita orang bisa dan mengalami Kasih Kristus, sebab itu sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa ” AMGPM ini adalah Organisasi Besar, Sehingga Wajar Jika Terjadi Dinamika dalam Proses-proses berorganisasinya. Akan tetapi kita selaku kader dan pemuda GPM, perlu menjaga sikap dan tindakan kita yang menunjukan kepada dunia bahwasannya kita adalah Garam dan Terang Dunia,” Tutupnya. (BN-08)






