Kasus ISPA di Ambon Fluktuatif, Balita Masih Kelompok Paling Rentan

IMG 20260126 WA0017

 

Editor: Redaksi 

Ambon, Bedahnusantara.com: Tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Ambon dalam tiga tahun terakhir, terhitung sejak 2023 hingga 2025, menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Dinas Kesehatan Kota Ambon mencatat, pada tahun 2023 jumlah kasus ISPA mencapai 39.546 kasus, kemudian menurun pada tahun 2024 menjadi 32.360 kasus, namun kembali mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2025 dengan total 55.976 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2029), menjelaskan bahwa meskipun ISPA merupakan penyakit yang umum terjadi, perhatian khusus perlu diberikan pada peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas, terutama Pneumonia pada balita.

Berdasarkan data dari 22 puskesmas di Kota Ambon, tercatat kasus Pneumonia Balita pada tahun 2023 sebanyak 410 kasus, menurun menjadi 314 kasus pada tahun 2024, dan kembali menurun pada tahun 2025 menjadi 286 kasus.

“Secara umum, kelompok usia yang paling rentan terserang ISPA adalah balita,” ujar dr. Johan. Ia menyebutkan, pada tahun 2023 terdapat 14.549 kasus ISPA pada balita atau sekitar 37 persen, tahun 2024 sebanyak 11.667 kasus (36 persen), dan pada tahun 2025 sebanyak 11.165 kasus atau sekitar 20 persen dari total kasus ISPA.

Menurutnya, tingginya kasus ISPA pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik lingkungan maupun perilaku. Paparan asap rokok di dalam rumah, ventilasi yang buruk, polusi udara, rendahnya kebersihan tangan, serta aktivitas anak di luar rumah menjadi faktor utama. Selain itu, sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang serta kebiasaan anak menyentuh benda dan memasukkan tangan ke mulut turut meningkatkan risiko penularan.

Untuk menekan angka kasus ISPA, khususnya pada musim pancaroba dan cuaca ekstrem, Dinas Kesehatan Kota Ambon telah dan terus melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya melalui sistem pemantauan surveilans terpadu di setiap puskesmas yang secara rutin memantau dan melaporkan perkembangan kasus setiap minggu.

Selain itu, puskesmas juga aktif melakukan penyuluhan kesehatan, baik di dalam gedung puskesmas maupun langsung di lingkungan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan melalui deteksi dini di posyandu, serta peningkatan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat juga terus digencarkan.

Dr. Johan juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan ISPA dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membakar sampah sembarangan, tidak merokok di dalam rumah, serta membuka jendela setiap pagi guna memperlancar sirkulasi udara. Masyarakat juga diharapkan membangun rumah sesuai kriteria rumah sehat dengan ventilasi yang memadai, memperhatikan kebersihan diri anak, serta segera mengakses layanan kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.

“Pencegahan ISPA membutuhkan keterlibatan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” pungkasnya. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan