Imelda Tahalele Disinyalir Menipu Publik Lewat Pengakuan Bohong Dan Sandiwaranya

Ambon, Bedahnusantara.com: Sejumlah catatan pengakuan sebagai bentuk hak jawab (klarifikasi) atas pemberitaan sebelumnya dari seorang Imelda A. Tahalele, S. STP.  Yang menjabat selaku Camat Teluk Ambon, disinyalir penuh dengan rekayasa dan kebohongan yang sengaja dibangun untuk memuluskan berbagai niat buruknya. 

InShot 20220927 073507852

Hal tersebut diketahui setelah media ini, kembali mendalami perihal persoalan kasus pemecatan terhadap Zeth Ballry Tanate, seorang pegawai kontrak pada kantor Kecamatan Teluk Ambon. 

 

Dalam penjelasannya, Zeth Ballry Tanate sangat menyesalkan sikap seorang Imelda A. Tahalele, S. STP yang begitu mudahnya dan begitu berani memberikan penjelasan dan keterangan bohong kepada publik, melalui sejumlah pengakuan terkait sikap dan kehidupannya yang sama sekali tidak benar. 

 

Dikatakannya, perihal pernyataan Imelda A. Tahalele, S. STP. Terkait dirinya yang memiliki hutang piutang dengan orang lain sehingga pihak peng hutang mendatangi dirinya, lantas meminta pertanggung jawaban. Yang kemudian ada isyu bahwa dirinya mengeluarkan pernyataan berupa “Camat Kasih Beta Kerja Tapi Tidak Digaji”. Itu semua adalah kebohongan dan sebuah cerita karangan Ibu Camat. 

 

” fakta yang sebenarnya adalah, bahwa: selama tiga bulan bekerja sebagai sopir Ibu Camat Teluk Ambon, (Imelda A. Tahalele, S. STP) di kantor kecamatan. Beta memang belum digaji, hal itu dikarenakan menurut penjelasan Ibu Imelda, bahwa: Beta harus menunggu sampai terjadi perubahan anggaran baru Beta bisa dapat gaji. Dan memang pada faktanya sejak bulan Februari -April 2022, Beta bekerja tanpa gaji. Sehingga untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, maka Beta harus menghutang kebutuhan hidup disalah satu kenalan dengan jaminan saat terima gaji nanti Beta langsung lunasi. Dan puji Tuhan orang tersebut sangat mempercayai Beta, sehingga pada tanggal 02 Mei 2022, ketika mendapatkan gaji untuk tiga bulan kerja sejumlah kurang lebih tujuh jutaan. Beta langsung melunasi semua hutang, baik biaya kontrakan, biaya makan minum, termasuk biaya kebutuhan masuk sekolah dan biaya komite sekolah dari anak-anak untuk satu tahun. Sehingga akhirnya Beta merasa bersyukur dan tenang, ” ungkap Tanate. 

 

Saya menduga, lanjutnya, penjelasan bohong yang dilakukan oleh Ibu Camat Imelda A. Tahalele, S. STP ini juga ada kaitannya dengan peristiwa yang bertalian dengan kebutuhan mendesak dari mertua saya, yang tidak lain adalah orang tua kandung dari suami Ibu Camat. 

Yang mana pada waktu itu kami kedatangan Mertua kami (Bapak, Ais Ely bersama Istrinya). Dan kemudian dengan tidak ada maksud buruk, beliau (Bapak. Ais Ely) menerangkan bahwa beliau sementara memerlukan uang guna membayar cicilan kredit bulan terakhir yang akan jatuh tempo pada tanggal 15 Juni 2022.

 

” jadi waktu itu, bapa mantu cerita bahwa lagi punya kebutuhan mendesak, soal kredit dan mesti bayar karena akan jatuh tempo di bulan Juni tanggal 15. Waktu dengar itu Beta kemudian menjawab bahwa: Beta bulan ini balon Terima gaji, jadi nanti kalau dapat gaji di bulan berikut, bapa pakai saja, sebab Beta sudah seng ada kebutuhan lai. Hal ini Beta katakan sebab Beta punya gaji yang diterima pada bulan Mei tanggal 02 itu, sudah habis Beta pakai untuk melunasi semua kebutuhan yang ada termasuk hutang-hutang, dan hal itu bikin Beta memang tidak ada uang sebanyak yang diperlukan oleh bapa mantu. Namun Beta tahu kalau bulan Juli Beta akan dapat gaji sehingga Beta sampaikan, jika nanti Beta dapa gaji, bapa pakai saja karena Beta sudah tidak ada kebutuhan lagi, karena Beta juga berfikir, kalau Beta dapat gaji lalu bantu bapa mantu, kan masih ada sisanya yang walau tidak banyak tapi masih bisa Beta pakai untuk penuhi kebutuhan hidup, ” Jelas Tanate. 

 

Hanya saja, kata Tanate, hingga kedua Mertua kembali pulang ke kampung halaman sebelum tanggal 15 Juni. Apa yang Beta janjikan belum mampu Beta wujudkan karena memang saat itu gaji bulan mei-juni belum Beta terima, nanti dibulan Juli barulah Beta Terima gaji bulan Mei-Juni sekaligus. 

 

Bahkan, tambahnya, persoalan ini juga sudah sempat ditanyakan oleh Ibu Camat, kepada Beta seusai kami melakukan rapat bersama di kantor kecamatan. Yang mana masih pada bulan Juni setelah rapat usai, Ibu Camat mengatakan kepada saya untuk jangan keluar dulu sebab beliau sedang ada keperluan penting yang mau dibicarakan bersama saya menyangkut keluarga. 

 

” Jadi setelah Bapa mantu donk pulang di bulan Juni itu, pas selesai rapat dikantor. Ibu Camat lalu bilang ke Beta bahwa : Wate (panggilan akrab Zeth Tanate), jang kaluar dolo tahan sebentar, karena Beta (Imelda) ada perlu, sebab ini menyangkut keluarga. Dan dalam pembicaraan diruang kerjanya, Ibu Camat lalu menanyakan terkait siapa yang lagi ditagih hutang. Beliau bilang begini; Itu bagaimana, sapa ada dapat tagih utang, lalu Beta jawab Beta jua kurang tahu Usi. Lantas Ibu Camat bilang; katanya donk ada tagih utang di Bapa (Mertua saya Ais Ely). Lantas saya kemudian mengatakan: Jangan sampai bukan di Bapa kapa!, sambil Beta menceritakan semua perihal janji Beta untuk membantu Beta Bapa Mantu (Bapak Ais Ely) saat Terima gaji bulan depan nantinya. Hal itu juga beta sampaikan dengan sangat jujur, sambil tetap menjaga perasaan Ibu Camat, sebab biar bagaimanapun Beta Mertua adalah Ayah kandung dari Suami Ibu Camat, dan juga bahwa donk (Ibu Camat, Suaminya, Mertua Beta) telah dengar bahwa Beta baru Terima gaji untuk tiga bulan bekerja Feb- April sebanyak kurang lebih tujuh juta, kan tidak mungkin tiba-tiba sudah habis. Namun faktanya seperti yang Beta sudah jelaskan sebelumnya, bahwa karena banyak kebutuhan dan juga selama tiga bulan kerja belum Terima gaji, maka untuk memenuhi kebutuhan Beta terpaksa harus berhutang dulu, yang kemudian waktu gajian puji Tuhan Beta langsung kasih lunas. Sehingga Beta sangat menyesalkan bahwa Ibu Camat bisa dengan tega memutar balikan fakta seolah-olah Beta ini mempermalukan antua, soal hutang dengan bahasa bohong yang beliau sampaikan kepada publik lewat media ini, ” Terang Tanate. 

 

Selain itu, saya juga, kata Zeth, sangat menyesalkan kebohongan Ibu Camat, bahwa saya ini orang yang malas, tidak disiplin dan tidak beretika, tidak sopan, suka berkata kasar kepada beliau dan lain sebagainya. Padahal pada faktanya saya selalu taat menjalankan semua perintah dari Ibu Camat tanpa berani untuk membantah apalagi mengeluarkan kata kasar kepada beliau. 

 

” Beta ini jujur bu, kalau mau dibilang, Beta ini bisa dianggap Manua (Hidup bergantung total) pada Ibu Camat dan keluarganya. Mengapa Beta bilang bagitu, sebab Beta ini sudah tidak punya orang tua, sehingga orang tua dari Maitua (Istri) yang juga orang tua dari Suami Ibu Camat, Sudah Beta jadikan layaknya Beta orang tua kandung. Selain itu Beta ini bisa kerja di kantor kecamatan itu semua berkat Ibu Camat, sehingga bagaimana mungkin Beta bisa membantah semua perkataan donk (Ibu Camat, Suaminya, dan mertua Beta). Jangankan mau membantah apalagi mau berkata kasar, berbicara untuk menyinggung donk saja Beta sangat takut, sebab Beta paling menjaga perasaan baik dari Ibu Camat, suaminya, dan mertua Beta. Sebab Beta sangat sadar, kalau semua yang Beta bisa Terima saat ini itu berkat bantuan dan pertolongan donk. 

Karena itu, kalau donk perintah (termasuk Ibu Camat), Beta akan lakukan dengan segenap hati dan sukacita, walaupun hujan badai Beta tetap terobos. Hal ini Beta lakukan mengingat semua kebaikan yang sudah donk berikan kepada Beta dan keluarga Beta, ” tuturnya. 

 

Karena itu, Kalau kemudian ” Ibu Camat mengatakan bahwa Beta suka terlambat datang kantor, shio bu e, Beta ini jam 07:00 Wit tepat kadang lebih tempo lai, Beta sudah ada di rumah dinas, untuk antar jemput anak-anak dan juga ibu Camat buat ke kantor. Sebab Beta ini tugas untuk antar anak-anak ibu Camat kesekolah, baik yang bernama Pey (bersekolah di TK Adhyaksa) dan Kliford (Bersekolah di SMP Negeri 4 Ambon). Setiap pagi itu jam 07:00 Wit, Beta tugas antar mereka kesekolah karena kebetulan donk 2 satu rute. Dana itu juga termasuk jemput lagi waktu pulang sekolah terkhusus bagi Ade Pey yang bersekolah di TK Adhyaksa. Sedangkan untuk yang bernama Noni (Bersekolah di SMA Negeri 2 Ambon). Beta selalu bergantian dengan Papanya mengantar dia, sebab Noni bersekolah memakai dia Sift (pagi -siang). Sehingga ada kalanya bapaknya yang mengantar, tapi kalau pulang selalu saya yang jemput, khususnya kalau Noni sekolah siang, kan pulangnya sore bahkan hampir malam. Jadi Beta sungguh menyesal atas semua informasi bohong yang sudah diberitakan oleh ibu Camat, padahal faktanya Beta berkerja dengan tulus dan semua yang Beta sampaikan ini adalah fakta bahwa Beta bekerja bukan hanya melayani tugas dinas dari Ibu Camat tetapi juga kebutuhan keluarga Ibu Camat, ” Ucap Zeth sembari mengusap air mata. 

 

Ketika ditanya terkait dirinya yang suka membantah, marah-marah dan membentak Imelda A. Tahalele, S. STP, serta para pegawai lainnya saat mereka meminta bantuan. Zeth Tanate mengungkapkan. Hal itu tidak pernah dirinya lakukan, sebab seperti yang telah saya sampaikan tadi. “Saya ini bisa dibilang Manua dan sangat berhutang banyak kepada Ibu Camat dan keluarganya, jadi bagaimana mungkin saya berani berlaku kasar dan tidak sopan dengan beliau”.

 

” Beta ini seng pernah berani membantah apapun perintah Ibu Camat, antua suruh apa saja Beta pasti bikin dan seng pernah bantah, lalu kalau Ibu bilang bahwa Beta suka marah-marah teman- teman yang minta tolong atau mau pinjam motor dinas. Beta berani sumpah dan bu donk bisa tanya saja kepada semua pegawai, kapan Beta menolak donk permintaan atau larang donk pakai motor dinas?. Beta tidak pernah melarang, karena motor dinas itu bukan Beta punya hak, siapa saja boleh pakai untuk keperluan dinas. Hanya saja Beta sampaikan kepada donk, kalau habis pakai motor dinas, jangan lupa bantu Beta tambah minyak di akang jua, jang sampe pas Beta ada perlu mendadak karena Ibu panggil, Beta seng bisa datang tepat waktu karena seng ada minyak di motor. Sebab ada kalahnya Ibu Camat panggil mendadak karena ada tugas, walaupun itu sudah diluar jam dinas, sehingga mau tidak mau Beta mesti tetap siap sedia. Hal seperti itu yang Beta sampaikan kepada semua orang di kantor, dan juga Beta seng pernah bakalai donk apalagi minta beli rokok atau makan siang baru Beta mau kasih pinjam motor dinas. Shio bu beta mau bilang Ibu paling tega, bisa karang cerita sampe bagitu tentang Beta, ” kata Zeth menerangkan sembari kembali mengusap air mata. 

 

Namun, lanjut Zeth, jika soal membantah beliau sebenarnya saya tidak pernah membantah. Akan tetapi mungkin saja apa yang saya sampaikan ketika rapat itu, kemudian dianggap sebagai bantahan dan pembangkangan oleh Ibu Camat. 

 

” jadi waktu itu kami sedang melakukan rapat umum dikantor kecamatan, dan setelah rapat umum selesai Ibu Camat (Imelda A. Tahalele, S. STP), kemudian mengumpulkan kami para tenaga kontrak yang berjumlah empat orang, untuk membahas berbagai hal yang bertalian dengan kinerja kami, saat itu Ibu Camat (Imelda Tahalele), mempersoalkan terkait uang Minyak, dan dengan sangat menekan mempersalahkan Beta, seolah Beta ini makan minyak atau ada mencuri dan menipu di uang minyak (BBM). Beliau menyatakan: bahwa soal minyak itu, masa Beta baru isi minyak, eh balom apa-apa sudah mesti isi lagi?, mendengar semua itu jujur saat itu Beta memilih diam dan menahan kecewa, sebab tuduhan tersebut sangatlah memalukan Beta secara pribadi,. Dan kemudian ketika diberi kesempatan Beta lantas memberi penjelasan  dan juga memberi penegasan bahwa: Sebelumnya Ibu, Beta minta maaf, tapi soal pelayanan, untuk tenaga saja Beta siap, mau dari pagi sampai malam pun Beta siap, yang penting tolong jaga Beta pung bensin dimobil saja, karena Beta lari (berkendara) selalu dengan minyak reseref (minyak dalam kondisi minus). Ditambah lagi kalau Mobil dinas itu (Zusuki AVP), kalau dia kehabisan minyak dan mobil mati. Maka rem akang seng makan (rem tidak berfungsi), sebab Beta hampir celaka (kecelakaan) saat didaerah Galunggung (saat itu Beta lagi antar anak-anak Ibu Camat kesekolah mereka). Akan tetapi beliau (Imelda A. Tahalele, S. STP), tetap memarahi dan menyalahkan Beta, sekalipun Beta sudah menjelaskan secara baik-baik kepada beliau, dan karena beliau tetap bersikukuh, akhirnya Beta hanya bisa memilih diam dan tidak membantah semua tuduhan dan kemarahan Ibu Camat perihal uang minyak, ” Papar Tanate. 

 

Hal inilah terang Zeth, yang membuat saya sangat bingung, setiap. Kali saya dikasih uang Bensin hanya 50 Ribu, tapi Ibu Camat menyatakan setiap hari 100 ribu,. Kalaupun Ibu Camat memberi uang minyak 100 ribu/hari , tentunya hal itu tidaklah cukup mengingat dalam satu hari aktifitas saya harus menempuh jarak yang tidak sedikit dan juga harus melayani berbagai kebutuhan Ibu Camat, baik secara kedinasan maupun keluarga. 

 

” coba bung hitung bantu Beta, apakah uang minyak 50 ribu atau 100 ribu/hari itu cukup?. Kenapa Beta bilang tidak cukup sebab sejak 07:00 Wit, Beta sudah harus antar dua anak Ibu Camat ke sekolah dari Wayame – Kota, belum lagu kalau yang sekolah SMA, sekolah siang, Beta harus antar juga dari lokasi yang sama, Wayame – Kota, setelah itu jemput yang bungsu Pey dari sekolah TK Adhyaksa bawa kembali ke rumah, dari Kota- Wayame, setelah itu Beta harus kembali melayani kebutuhan dinas Ibu Camat, yang begitu banyak, dan seringkali antar ke kantor Walikota dengan agenda rapat. Setelah itu jika saat itu si Noni (yang bersekolah di SMA Negeri 2) pulang sekolah sore hari karena masuk Sift siang, saya harus jemput lagi dengan mobil dinas. Hal itu saya lakukan dengan setia dan tanpa membantah, walaupun kadang kala hati ini menangis sebab, Ibu Camat hanya memberikan jumlah uang minyak yang terbatas, dengan tingkat rutinitas yang tinggi dan jarak tempuh yang tidak sedikit guna melayani kebutuhan Dinas dan keluarga Ibu Camat, akan tetapi kemudian Beta malah dituduh makan pencuri atau sengaja menipu uang minyak biar biasa main judi online, ” Tutur Zeth sedih. 

 

Tidak hanya itu, kata Zeth, Ibu Camat (Imelda A. Tahalele, S. STP, bahkan dengan begitu tega menyebarkan informasi bohong lewat media ini dalam klarifikasinya, bahwa: saya pernah mengata-ngatai anak perempuannya yang tua yang bernama Noni (sekolah di SMA Negeri 2 Ambon). Dengan bahasa ” Beta bukan kamong pung jongos (budak), se mama juga kasih kerja Beta seng pernah kasih gaji”. Saat dia meminta saya menemaninya membeli buku. Padahal faktanya tidak demikian. 

 

” Jujur dan Beta berani sumpah demi Nama Tuhan Yesus bu ee, Beta seng pernah bilang bagitu for dia (Noni anak Ibu Camat Imelda A. Tahalele). Waktu itu dia (Noni) minta tolong Beta antar dia beli buku sekolah di tagalaya daerah batu gantung. Saat itu Ibu Camat minta Beta untuk antar Noni. (Saat itu masih jam dinas/kantor). Beta antar dia (Noni) ke pasar tagalaya untuk membeli buku yang dia cari, akan tetapi karena seng ada, dia (Noni) lalu minta Beta antar dia ke Swalayan Palanet di A. Y. Patti. Dalam hal Beta nih seng tahu bahwa di Swalayan Planet itu seng jual buku sekolah. Jadi Beta tetap antar saja. Sampai dilokasi Beta lantas menunggu Noni berbelanja buku sekolah (karena Beta pikir di situ ada jual buku), namun karena Beta tidak punya uang sama sekali Beta tidak parkir, sebab Beta takut jangan sampai uang parkiran mahal dan Beta seng ada uang par bayar parkir, sebab Beta juga tidak pernah minta – minta uang dari Ibu Camat, Beta paling takut dan tidak berani. 

Karena itu Beta lantas berjalan putar-putar sambil memperkirakan apakah Noni sudah selesai membeli buku. Namun karena lama menunggu lebih dari satu jam tidak melihat Noni, Beta akhirnya nekat parkir dilokasi depan Planet A. Y. Patti lalu mencoba masuk untuk menemukan Noni. Beta mencari diseluruh bagian swalayan Planet tapi tidak menemukan Noni, Beta kemudian menyeberang kelokasi toko-toko lain untuk mengecek jangan sampai karena tidak ada di Planet maka dia (Noni) sudah keluar untuk cari di toko lain. Tapi Beta cari kiri kanan toko sampai masuk didalam, Beta seng liat Noni. Beta akhirnya memilih balik ke lokasi swalayan Planet, dan tanpa sengaja menemukan bahwa Noni lagi duduk santai dan makan bersama temannya di restoran Planet lantai 2,”.

 

Melihat itu, tambahnya, ” Beta kemudian menasehati Noni (anak Ibu Camat), bahwa Noni tidak boleh berbuat begitu, lain kali kalau mau buat sesuatu itu komunikasi dengan Wate (Beta). sebab Wate ini sama dengan Noni Pung Papa dan mama, jadi kalau ada apa-apa dengan Noni, Wate yang sudah dan kalau Noni jadi apa-apa Wate yang stengah mati. Jadi kalau mau pigi kamana atau ada dimana itu kasih tahu Wate, karena Wate ini bertangung jawab for jaga Noni, pas tadi mama (Imelda A. Tahalele), minta Wate antar Noni. Wate seng marah dan juga seng larang, tapi kalau Noni mau bikin sesuatu kasih tahu Wate biar seng susah cari Noni. Apalagi tadi katong pigi masih jam kantor, sapa tahu mama (Imelda A. Tahelele) juga ada butuh Wate. Mendengar semua nasehat Beta (Noni) kemudian minta maaf dan kemudian Beta antar Noni pulang. Sesampainya di rumah, sebab sudah lewat jam kantor sekitar jam 18:00 Wit. Beta kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Ibu Camat (Imelda A. Tahalele, S. STP), biar tidak ada salah paham, dan Ibu Camat sempat juga menasehati Noni bersama dengan Suaminya, agar Noni tidak berbuat demikian kepada Beta (sebab menurut mereka Beta ini juga orang tua bagi Noni), ” Terang Zeth menjelaskan. 

 

Sehingga kata Zeth, “Beta sungguh seng menyangka Ibu Camat (Imelda A. Tahalele, S. STP) begitu tega memfitnah Beta dengan  informasi bohong lewat media bahwa Beta mengata-ngatai anaknya Noni. Padahal Beta tidak pernah berbuat demikian, ” Tegas Zeth sedih. 

 

Untuk diketahui, selain keterangan dari Korban Zeth Ballry Tanate, pihak media Bedahnusantara.com juga melakukan penelurusan dan investigasi terkait persoalan ini serta mengkonfirmasi semua fakta dan pernyataan yang disampaikan oleh Imelda A. Tahalele, S. STP lewat klarifikasi (hak jawabnya). Kepada berbagai pihak terkait dan yang mengenalnya secara baik. Termasuk melakukan penelusuran fakta lapangan yang dituangkan oleh Imelda A. Tahalele, S. STP, dalam materi klarifikasinya kepada Media Bedahnusantara.com, 

 

Dan ternyata kami menemukan fakta dan bukti baik lewat peninjauan lapangan dan pernyataan berbagai pihak yang mengungkapkan bahwa: banyak sekali pernyataan yang disampaikan oleh Imelda A. Tahalele, S. STP, acap kali berupa rekayasa dan dugaan sandiwara atau bahkan berujung fitnah dan tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan atau kejadian nyatanya. 

 

Para pihak yang dikonfirmasi, meminta agar jangan nama mereka dipublikasikan, olehnya berdasarkan ketentuan UU PERS dan Kode Etik Jurnalistik, maka Media Bedahnusantara.com berkewajiban melindungi para narasumber dan saksi. 

 

Sehingga pihak media, mengambil kesimpulan untuk terus menyelidiki persoalan ini, hingga fakta dan kebenaran terungkap secara nyata dan terang benderang. (BN-04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan