Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Energizing Maluku ditargetkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangkitkan ekonomi, membuka lapangan kerja, memperkuat kewirausahaan dan menaikkan kelas UMKM di seluruh wilayah Maluku.
Ketua Majelis Latupatti Kota Ambon Reza Valdo Maspaitella, saat diwawancarai di Kantor Gubernur Maluku, Sabtu (12/9/2026), mengatakan semangat utama Energizing Maluku adalah memberikan energi baru kepada generasi muda Maluku agar mampu melihat masa depan dengan optimisme sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
“Sebenarnya, seperti dengan temanya Energizing Maluku. Jadi kita ingin benar-benar men-charge, meng-energize, supaya kita orang sebagai anak muda, sebagai orang Maluku, benar-benar bisa bangkit bersama melihat kita punya masa depan,” ujar Reza.
Menurutnya, dialog tersebut mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari pemerintah daerah melalui Bappeda, Bank Indonesia, dunia usaha hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Seluruh perspektif itu penting untuk melihat posisi Maluku sekaligus menemukan langkah konkret yang dapat dilakukan bersama.
Ia menegaskan, program tersebut dirancang melalui pembinaan selama enam minggu dan dilanjutkan dengan pengukuran capaian pada minggu ketujuh.
Ada tiga segmentasi utama yang menjadi sasaran.
Pertama, generasi muda yang akan menyelesaikan pendidikan, baik mahasiswa, lulusan akademi maupun siswa SMA dan SMK. Mereka akan mendapatkan pembinaan dan selanjutnya diberikan kesempatan mengikuti job recruitment atau job fair.
Menurut Reza, capaian program akan dilihat secara konkret dari jumlah peserta yang berhasil masuk ke dunia kerja.
“Kalau misalnya ada seribu anak yang mencari pekerjaan, kita akan lihat yang diterima oleh BUMN, impact, yang diterima oleh korporasi-korporasi yang ingin melihat kepada generasi muda kita itu berapa persen,” jelasnya.
Jika tingkat penyerapan masih rendah, hasil tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Apakah persoalannya terletak pada terbatasnya lapangan pekerjaan atau kompetensi generasi muda yang masih perlu diperkuat.
Kedua, anak muda yang memiliki keinginan untuk berwirausaha. Mereka akan dibina selama enam minggu, termasuk dalam pengembangan ide dan penyusunan perencanaan usaha.
Pada minggu ketujuh, mereka diberikan kesempatan melakukan pitching untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari investor maupun lembaga pendanaan.
Ketiga, pelaku UMKM yang sudah menjalankan usaha. Program diarahkan untuk mendorong UMKM naik kelas, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi menengah, hingga menengah menjadi besar.
Untuk mewujudkan hal tersebut, akan dibangun forum business matching yang mempertemukan UMKM dengan BUMN, perusahaan swasta, APINDO, IWAPI, HIPMI dan berbagai pelaku usaha lainnya.
“Bagaimana mereka bisa menjadi subkontraktor, mereka bisa menjadi supplier, bisa menjadi macam-macam. Kita mulai merajut usaha-usaha yang di Maluku dari sekecil apa pun sampai yang sebesar apa pun kita hubungkan,” katanya.
Reza menilai, pola kolaborasi tersebut penting karena UMKM di satu daerah sering kali kesulitan menjangkau pasar maupun peluang usaha di daerah lain.
Karena itu, Energizing Maluku dirancang sebagai platform kolaborasi yang menyatukan berbagai pihak sehingga program pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dalam gerakan tersebut, Pemprov Maluku, Kadin, Majelis Adat, Bank Indonesia, OJK, BUMN, dunia usaha dan organisasi lainnya akan dilibatkan. Hope Worldwide juga digandeng sebagai program manager untuk membantu mengelola proses pembinaan secara berkelanjutan.
“Kalau kita masing-masing membuat sendiri-sendiri, bukan tidak efektif, tapi dia tidak berdampak besar. Kadang-kadang itu bisa juga seperti membuang-buang garam ke laut. Tetapi kalau kita bisa masuk bersama-sama dalam sebuah gerakan, dalam satu kapal, maka ini bisa terjadi,” tegasnya.
Reza mengatakan, gerakan tersebut juga tidak boleh hanya berpusat di Kota Ambon. Setelah tahap awal dilakukan dan dievaluasi, program direncanakan bergerak ke kabupaten/kota lainnya.
Tanimbar menjadi salah satu daerah yang direncanakan sebagai lokasi berikutnya, kemudian dilanjutkan ke Buru, Kei, Maluku Tengah dan wilayah lainnya.
“Supaya orang tahu Maluku bukan hanya Ambon saja,” ujarnya.
Ia menegaskan, target utama gerakan ini bukan sekadar menghasilkan kegiatan, tetapi menciptakan perubahan yang dapat diukur.
Berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan, berapa banyak wirausaha yang mendapatkan pembiayaan, serta berapa banyak UMKM yang berhasil menjalin kemitraan dengan BUMN maupun perusahaan swasta menjadi indikator yang akan dievaluasi.
Hasil evaluasi minggu ketujuh nantinya akan menjadi dasar untuk menyusun program lanjutan selama enam bulan berikutnya.
Reza berharap pola tersebut terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya hingga seluruh masyarakat Maluku mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Targetnya adalah bagaimana capaian nanti di minggu ketujuh kita lihat hasilnya apa. Berapa banyak perusahaan yang akhirnya bisa bermitra dengan BUMN, bermitra dengan impact, berapa banyak wirausaha yang punya keinginan akhirnya dibiayai, berapa banyak anak-anak Maluku yang akhirnya punya pekerjaan dari hasil ini,” tandasnya.
Ia menambahkan, gerakan tersebut diharapkan menjadi bagian dari kebangkitan masyarakat Maluku secara menyeluruh, bukan sekadar program jangka pendek.
“Ini bukan program, bukan sebuah aktivitas. Tapi ini sebuah gerakan bersama kita untuk bangkit. Sampai kapan? Sampai kita bisa melihat dua juta warga masyarakat Maluku ini sudah maju,” pungkas Reza. (BN Grace)








