Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Maluku, Dr. Anton Adriaan Lailosa, S.T., M.Si., menegaskan bahwa pembangunan Maluku tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, lembaga keagamaan, dunia pendidikan, perbankan, pemuda, hingga masyarakat untuk mengubah berbagai potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Lailosa dalam kegiatan Energizing Maluku, yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pembangunan, termasuk pimpinan BUMD, pelaku UMKM, pemuda, perbankan, dunia usaha dan unsur masyarakat.
Lailosa mengatakan, sebelum berbicara mengenai program pembangunan, masyarakat Maluku perlu terlebih dahulu melihat kembali apa yang dimiliki daerah ini dan warisan seperti apa yang akan diberikan kepada generasi mendatang.
“Pagi ini saya tidak memulai dengan bicara tentang program. Saya memulai dengan bicara tentang rumah kita dan warisan Maluku bagi kita,” ujarnya.
Menurutnya, Maluku memiliki tanah yang luas, kekayaan alam, kebudayaan yang besar serta sumber daya manusia yang menjadi kekuatan utama pembangunan. Namun, seluruh potensi tersebut harus mampu dikelola menjadi sesuatu yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Ia menyebut sejarah seakan sedang memberikan pertanyaan kepada generasi saat ini mengenai masa depan Maluku.
“Manusia seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Apakah mereka hanya akan mendengar cerita tentang Maluku yang memiliki sejarah dan kekayaan, ataukah mereka akan hidup di dalam sebuah Maluku yang benar-benar sejahtera karena kekayaan yang kita bina ini?” katanya.
Lailosa juga menyoroti persoalan generasi muda Maluku yang selama ini harus meninggalkan daerah untuk mengejar pendidikan, pekerjaan maupun kesuksesan. Karena itu, pembangunan ke depan menurutnya harus diarahkan agar anak-anak muda Maluku memiliki kesempatan untuk membangun masa depan di tanah sendiri.
“Apakah anak muda kita harus bekerja untuk mencapai kesuksesan di tempat lain? Ataukah kita mampu membangun sebuah Maluku di masa depan yang juga dapat mereka temukan di tanah mereka sendiri?” ujarnya.
Ia menilai Maluku sebenarnya tidak kekurangan potensi. Persoalan utama adalah bagaimana potensi tersebut dikapitalisasi, diubah menjadi produktivitas dan kemudian dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah harus mendorong pelaku UMKM agar tidak berhenti pada skala usaha kecil, tetapi terus naik kelas menjadi perusahaan yang memiliki kapasitas produksi, akses pasar dan daya saing.
“Maluku tidak kekurangan potensi yang harus kita manfaatkan sekarang untuk bagaimana membangun ekonomi, mengubah kapital menjadi produktivitas, dan mengubah UMKM kita menjadi perusahaan yang terus bisa naik kelas,” tegasnya.
Menurut Lailosa, pembangunan infrastruktur juga harus memiliki orientasi yang jelas terhadap peningkatan produktivitas masyarakat. Infrastruktur tidak boleh hanya dilihat sebagai pembangunan fisik, tetapi harus mampu membuka akses, mempermudah aktivitas ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan.
“Pembangunan harus diubah menjadi kehidupan masyarakat yang lebih baik,” katanya.
Dalam konteks itulah, lanjut Lailosa, Energizing Maluku hadir bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, seminar maupun program yang selesai setelah kegiatan berakhir.
“Untuk itulah Energizing Maluku ini lahir. Bukan sebagai sebuah acara, bukan sebagai sebuah seminar, dan bukan pula sebagai program yang selesai ketika acara ini dimatikan,” jelasnya.
Ia menegaskan Energizing Maluku dibangun sebagai sebuah gerakan dan platform kolaborasi yang mempertemukan berbagai kekuatan untuk mempercepat pembangunan Maluku.
Platform tersebut diharapkan dapat mempertemukan sumber daya manusia, dunia pendidikan, sektor industri, dunia usaha, pasar, akses permodalan, teknologi serta komunikasi yang lebih luas.
“Energizing Maluku kita bangun sebagai sebuah gerakan, sebuah platform yang mempertemukan manusia-manusia Maluku, manusia-manusia Indonesia, mempertemukan dunia pendidikan, sektor-sektor industri kita, mempertemukan pasar dan akses permodalan kepada teknologi dan kepada komunikasi yang luas,” ujarnya.
Dengan kolaborasi tersebut, berbagai potensi usaha yang selama ini dimiliki masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dapat dikonversikan menjadi peluang ekonomi dan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan.
Lailosa juga mengangkat filosofi lokal mengenai tiga unsur yang menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat Maluku, yakni pemerintah, adat dan agama.
Sebagai bagian dari pimpinan adat di Maluku, ia menilai filosofi tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan modern yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah, adat dan agama berbeda posisi tetapi memompakan satu keinginan,” katanya.
Ia kemudian mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperbesar “tungku” kolaborasi tersebut. Pemerintah membawa kebijakan strategis, adat membawa identitas dan modal sosial, sementara agama membangun pengawalan moral serta karakter manusia.
Dalam kolaborasi yang lebih luas, dunia pendidikan berperan menyediakan ilmu dan kompetensi, dunia usaha menghadirkan pasar dan pekerjaan, perbankan menyediakan akses permodalan, teknologi memberikan akselerasi, sedangkan masyarakat menjadi energi perubahan.
“Semua itu bagus, tetapi tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Karena Maluku terlalu besar untuk dibangun oleh satu institusi saja dan tantangannya terlalu kompleks untuk diselesaikan secara sendiri-sendiri,” tegas Lailosa.
Menurutnya, prinsip kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi utama Energizing Maluku. Seluruh unsur harus duduk bersama dan memiliki tujuan yang sama agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat dan memberikan dampak yang lebih luas.
Selain memperkuat sektor ekonomi, Lailosa menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia sebagai investasi utama Maluku menghadapi masa depan.
Dalam kegiatan tersebut, diperkenalkan pula sebuah perangkat lunak atau aplikasi yang dikembangkan secara khusus untuk mendukung pendidikan dan pembangunan kualitas sumber daya manusia Maluku.
Teknologi tersebut memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap pembelajaran dan meningkatkan kualitas SDM.
Lailosa menilai pemanfaatan teknologi AI menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat. Teknologi tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang digunakan oleh daerah lain, tetapi harus dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan dan pembangunan manusia di Maluku.
Ia berharap momentum tersebut menjadi bagian dari sejarah baru pembangunan Maluku, terutama dalam membangun manusia yang mampu mengelola kekayaan daerah secara bertanggung jawab.
“Mulai hari ini, Maluku bangun sama-sama ke depan,” pungkasnya. (BN Grace)








