Dinkes Ambon: Cakupan Imunisasi Anak Menurun Pasca Pandemi

IMG 20260126 WA0018

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Capaian program imunisasi anak di Kota Ambon pasca pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan masih adanya sebagian masyarakat yang menolak anaknya untuk mendapatkan imunisasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Stefanus Norimarna mengatakan, imunisasi pada anak diberikan sejak bayi baru lahir hingga usia sekolah dasar. Namun, tantangan terbesar saat ini terjadi pada imunisasi anak usia sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

“Program imunisasi pada anak diberikan mulai dari usia 0 hari sampai anak berada di kelas 6 SD. Khusus imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan, kemudian usia 1 tahun 6 bulan, serta saat anak berada di kelas 1 SD,” ungkap Norimarna saat diwawancarai via WhatsApp, Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi Dinas Kesehatan Kota Ambon, penolakan paling banyak terjadi saat pelaksanaan imunisasi anak sekolah. Padahal sebelum pelaksanaan BIAS, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Menurutnya, kendala yang dihadapi saat ini adalah belum maksimalnya peran serta lintas sektor dalam mendukung program imunisasi.

“Ke depan perlu ada koordinasi yang lebih kuat dan keterlibatan lintas sektor seperti Dinas Pendidikan, Kementerian Agama dan sektor lainnya agar edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya imunisasi bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kesiapan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi dan menangani kasus campak sejak dini, Norimarna menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 tidak terdapat kasus campak yang terkonfirmasi di Kota Ambon.

“Di tahun 2025 tidak ada kasus campak yang terkonfirmasi. Yang ada hanya kasus suspek campak yang tersebar di empat kecamatan yaitu Nusaniwe, Sirimau, Baguala dan Teluk Ambon,” jelasnya.

Apabila ditemukan kasus suspek campak, fasilitas kesehatan akan melakukan pengambilan sampel serum untuk dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya atau Jakarta, karena pemeriksaan campak dan rubella belum dapat dilakukan di Ambon.

Untuk penanganan awal, pasien akan diberikan pengobatan simptomatik yang berfokus pada penanganan gejala, pemberian vitamin A sebanyak dua kali sesuai dosis serta melakukan isolasi mandiri. Kontak erat yang memiliki gejala juga akan mendapatkan penanganan yang sama.

Dinas Kesehatan juga melakukan langkah deteksi dini melalui penyisiran atau swiping di wilayah yang memiliki cakupan imunisasi campak rendah.

“Jika ditemukan anak dengan gejala demam dan ruam mukopapular maka akan dilakukan pengambilan spesimen, pengobatan simptomatik, pemberian vitamin A serta isolasi mandiri. Bila muncul gejala komplikasi seperti demam tinggi, sesak atau diare maka harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit,” jelasnya.

Ia menambahkan, KLB suspek campak dapat ditetapkan jika ditemukan lima atau lebih kasus dalam kurun waktu empat minggu berturut-turut yang terjadi secara berkelompok dan memiliki hubungan epidemiologi.

Norimarna menegaskan, peningkatan cakupan imunisasi serta penguatan deteksi dini terus dilakukan untuk mencegah potensi penyebaran campak di Kota Ambon. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan