Disdik Ambon Siapkan Metode Baru untuk Perkuat Kemampuan Berhitung Siswa

IMG 5292

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pendidikan berencana mengevaluasi metode pembelajaran berhitung yang selama ini diterapkan di sekolah. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah menghadirkan metode berhitung cepat seperti sempoa untuk membantu meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, F. Tasso, mengatakan penggunaan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Hal ini menjadi bahan evaluasi setelah penerapan metode Gasing di sejumlah sekolah dinilai belum memberikan hasil yang optimal.

“Kalau kita lihat anak-anak yang menggunakan sempoa, mereka bisa berhitung sangat cepat. Ada juga metode lain. Nah, kalau itu bagus, ke depan kita bisa membuat pelatihan,” kata Tasso saat diwawancarai di Manise Hotel Ambon, Kamis (24/9/2026).

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement

Menurutnya, evaluasi terhadap penerapan metode Gasing menunjukkan masih terdapat sekolah yang belum menerapkannya secara konsisten. Berdasarkan pemantauan pengawas, salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan antara metode Gasing dengan pola pembelajaran atau kurikulum yang digunakan di sekolah.

“Kelihatan antara kurikulum yang diajarkan dengan Gasing itu sudah berbeda metodenya. Itu yang membuat tidak nyambung. Tapi paling tidak, kalau basic berhitung cepat, harusnya tetap bisa,” ujarnya.

Tasso menilai kemampuan berhitung cepat pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kebiasaan. Karena itu, selain Gasing, Dinas Pendidikan akan melihat kemungkinan penerapan metode lain yang dinilai lebih sesuai dan efektif untuk meningkatkan kemampuan numerasi siswa.

Ia mencontohkan penggunaan sempoa yang membuat anak terbiasa melakukan operasi hitung secara cepat. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat dilatih mulai dari perhitungan sederhana hingga angka yang lebih besar.

“Kalau angka satu digit, itu harus sudah di luar kepala. Kemudian kalau sudah masuk puluhan, ratusan, ribuan, sampai jutaan, tangan yang bermain. Jadi memang harus dibiasakan,” jelasnya.

Pengalaman mengikuti berbagai tes, lanjut Tasso, juga menunjukkan pentingnya membangun kebiasaan berhitung sejak dini. Kemampuan tersebut dibutuhkan dalam berbagai bentuk tes yang mengharuskan peserta melakukan perhitungan secara cepat dan berulang.

“Kalau tidak terbiasa berhitung, hasilnya mungkin hanya satu lembar. Tapi kalau orang sudah terbiasa, bisa lebih dari satu halaman. Itu karena latihan dan kebiasaan,” katanya.

Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Ambon membuka peluang untuk menghadirkan pelatih dari luar daerah apabila terdapat metode berhitung yang terbukti dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa.

“Kalau nanti kita menemukan metode lain yang efektif, kita akan coba. Misalnya belajar sempoa dengan mendatangkan pelatih. Kalau tahun depan anggaran kita cukup, kita akan upayakan,” tutur Tasso.

Ia menegaskan, langkah tersebut bukan semata-mata mengganti metode yang sudah ada, tetapi mencari pendekatan pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan siswa di Kota Ambon.

Selain persoalan metode pembelajaran, Tasso juga menyinggung kebutuhan dukungan anggaran untuk berbagai kegiatan pendidikan, termasuk pelatihan maupun keikutsertaan siswa dalam kegiatan di luar daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperoleh informasi lebih awal mengenai agenda pelatihan, lomba maupun kegiatan pendidikan lainnya agar dapat disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

“Kalau ada kegiatan tahun depan, kasih tahu dari awal. Misalnya ada pelatihan di Jawa Timur atau mengikuti lomba di mana, supaya kita bisa lihat dan atur anggarannya,” katanya.

Tasso berharap perencanaan kegiatan pendidikan dapat dilakukan lebih baik sehingga dukungan pemerintah terhadap pengembangan kompetensi siswa dapat berjalan sesuai kemampuan anggaran daerah. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan