Editor: Redaksi
AMBON, Bedahnusantara.com: Busana adat khas Maluku dan Ambon terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman tanpa menghilangkan pakem serta identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Hal tersebut terlihat dalam Expo DPRD Kota Ambon, di mana pelaku usaha lokal turut mendapat ruang untuk mempromosikan produk mereka. Salah satunya Butik Ambon yang menampilkan berbagai pakaian adat khas Maluku, Ambon, dan busana bernuansa etnik Maluku.
Owner Butik Ambon, Rina Hetaria/Papilaya, mengatakan momentum tersebut menjadi kesempatan penting bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus melestarikan busana adat Maluku.
Hal itu disampaikan Rina saat diwawancarai di lokasi pameran Expo DPRD Kota Ambon, Rabu (2/9/2026).
“Ini momen yang penting buat kita semua bisa mempromosikan usaha kita. Butik Ambon juga diundang hari ini dan menampilkan pakaian-pakaian adat khas Maluku, Ambon, dan etnik Maluku,” ujar Rina.
Salah satu busana yang ditampilkan adalah baju basumpa, yang dikenal masyarakat Ambon sebagai salah satu pakaian pengantin khas Ambon. Busana tersebut dikembangkan dengan sentuhan modern, namun tetap mempertahankan karakter dasar pakaian adat.
“Ini adalah baju basumpa. Kalau orang Ambon bilang baju basumpa, baju kawin Ambon. Kalau ini sudah ada sedikit motif modern,” jelasnya.
Rina menjelaskan, baju basumpa dalam model aslinya biasanya menggunakan kain beludru dengan bentuk dan karakter yang menjadi ciri khas pakaian pengantin Ambon.
Menurutnya, perkembangan model busana tidak dapat dihindari seiring perubahan zaman. Namun, perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan identitas maupun aturan dasar dalam penggunaan pakaian adat.
“Yang pasti, dia punya aslinya itu tidak boleh diubah. Dia punya aturan-aturan untuk pakainya juga tidak boleh berubah. Tapi model-modelnya itu juga ada. Sekarang ini mulai banyak yang sesuai dengan perubahan zaman,” katanya.
Ia menilai perkembangan model busana adat justru menjadi peluang untuk kembali memperkenalkan pakaian khas Maluku kepada generasi muda. Sebab, semakin banyak anak muda yang mulai tertarik menggunakan busana bernuansa adat dengan desain yang lebih modern.
“Anak-anak muda sekarang banyak yang mau pakai dengan perubahan model,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Rina adalah mengubah model cole, yang selama ini dikenal sebagai bagian dari pakaian dalam tradisional, menjadi blouse yang lebih modern.
Menurutnya, ide tersebut muncul karena bagian belakang cole memiliki bordiran yang dinilai indah. Ornamen tersebut kemudian dikembangkan menjadi bagian utama dari desain blouse.
“Cole itu sebenarnya pakaian dalam. Karena anak muda sekarang lihat bordiran di belakang cole bagus, jadi Mama Ina rubahkan menjadi blouse. Ini blouse cole, modelnya cole, tapi dikombinasikan dengan kain tenun,” jelasnya.
Rina berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga busana tradisional Maluku tetap hidup di tengah perkembangan industri fashion. Sentuhan modern, kata dia, dapat diberikan pada bentuk dan kombinasi bahan, tetapi identitas budaya tetap harus dipertahankan.
Ia juga berharap kegiatan pameran seperti Expo DPRD Kota Ambon dapat terus menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Menurutnya, pengembangan busana adat dengan pendekatan modern dapat membuat pakaian khas Maluku semakin dekat dengan generasi muda, sehingga warisan budaya tersebut tidak hanya digunakan dalam acara adat atau seremonial, tetapi juga dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. (BN Grace)





