Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Upaya menjaga warisan budaya dan ingatan kolektif masyarakat Negeri Hukurila, Kota Ambon, diwujudkan melalui program “Bacarita Asal: Alih Wahana dan Publikasi Cerita Rakyat Negeri Hukurila” yang digagas Bengkel Sastra Maluku.
Program yang berlangsung sejak 1 Agustus hingga 25 September 2026 tersebut tidak hanya berfokus pada pendokumentasian cerita rakyat, tetapi juga mengembangkan kisah-kisah lokal menjadi karya seni dan sastra yang dapat dinikmati oleh generasi masa kini.
Ketua Bengkel Sastra Maluku, Marthen Luther Reasoa, saat diwawancarai langsung seusai kegiatan di Negeri Hukurila, Senin (28/9/2026), mengatakan bahwa Bacarita Asal menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pelajar, penyair, musisi, dan komunitas seni untuk membangun hubungan melalui cerita rakyat.
“Kegiatan Bacarita Asal bukan hanya tentang mengenal sejarah dan membuat karya, tapi membangun hubungan antarmanusia,” ungkap Marthen.
Menurutnya, cerita rakyat memiliki peran penting dalam menjaga ingatan masyarakat tentang asal-usul, sejarah, pengetahuan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Program ini merupakan bagian dari Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Kesastraan, melalui Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra Tahun 2026, yang difasilitasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Bagi Bengkel Sastra Maluku, cerita rakyat bukan sekadar peninggalan masa lalu yang harus disimpan, melainkan warisan pengetahuan yang perlu terus dihidupkan melalui berbagai bentuk karya kreatif.
Di Negeri Hukurila, cerita rakyat selama ini diwariskan secara lisan melalui para tetua adat, mama-mama, dan masyarakat. Namun, tidak semua cerita telah terdokumentasi secara sistematis sehingga berisiko hilang akibat perubahan zaman.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pelaksanaan Bacarita Asal sebagai upaya menjaga keberlanjutan cerita rakyat sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Dari Tuturan Menjadi Karya Seni
Pelaksanaan Bacarita Asal dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengumpulan cerita rakyat, bengkel alih wahana, proses produksi dan perekaman, hingga pertunjukan seni.
Cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat Negeri Hukurila terlebih dahulu digali dan dikumpulkan dengan melibatkan masyarakat setempat. Selanjutnya, cerita tersebut dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya seni dan sastra.
Proses alih wahana dilakukan melalui penulisan puisi, penciptaan lagu anak, musikalisasi puisi, sketsa bercerita, hingga monolog storytelling.
Dalam proses kreatif tersebut, penyair, musisi, pelajar, komunitas seni sastra, dan masyarakat dipertemukan untuk membaca, memahami, serta mengolah cerita rakyat dari berbagai perspektif.
Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi anak-anak untuk terlibat secara langsung dalam proses penciptaan karya, sekaligus mengenal kebudayaan yang tumbuh di lingkungan mereka.
Puisi dikembangkan melalui kolaborasi penyair dan pelajar. Sementara itu, cerita rakyat juga diolah menjadi lagu anak yang melibatkan musisi dan pelajar.
Lagu anak tersebut direkam dalam tiga bahasa, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Penggunaan tiga bahasa ini menjadi bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya sekaligus memperluas ruang pembelajaran lintas budaya.
Cerita rakyat juga dikembangkan melalui medium digital dalam bentuk monolog storytelling. Pemanfaatan video dan audio membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati cerita dalam format yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
Selain itu, pendekatan tersebut turut membuka ruang partisipasi yang lebih luas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, seni dan sastra tidak hanya menjadi sarana menghasilkan karya, tetapi juga ruang pembelajaran yang inklusif untuk mengembangkan kemampuan dan potensi setiap anak.
Hasilkan Puluhan Karya Kreatif
Rangkaian kegiatan Bacarita Asal menghasilkan sejumlah karya yang bersumber dari cerita rakyat Negeri Hukurila.
Karya-karya tersebut meliputi sembilan puisi, satu video musikalisasi puisi, satu video musik lagu anak, tiga video monolog storytelling, serta puluhan sketsa bercerita.
Seluruh karya kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui pertunjukan seni sebagai puncak kegiatan.
Pertunjukan tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk menampilkan hasil proses kreatif mereka sekaligus memperlihatkan bagaimana cerita rakyat dapat dikembangkan ke dalam berbagai bentuk seni.
Cerita yang sebelumnya hidup melalui tradisi lisan kini hadir dalam bentuk puisi, musik, lagu, pertunjukan, dan karya digital.
Proses tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada bentuk awalnya. Cerita rakyat dapat terus berkembang mengikuti kreativitas generasi muda tanpa melepaskan hubungan dengan sumber cerita dan lingkungan budaya yang melahirkannya.
Melalui pendekatan tersebut, Bengkel Sastra Maluku berupaya mempertemukan warisan tradisi dengan perkembangan kreativitas masyarakat masa kini.
Menjaga Ingatan, Membangun Generasi
Bacarita Asal diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang mendorong anak-anak mengenal sejarah, kebudayaan, dan nilai kehidupan melalui pengalaman berkesenian.
Keterlibatan dalam proses menggali cerita, menulis puisi, bermusik, bercerita, hingga tampil di hadapan masyarakat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memahami identitas budaya mereka.
Bagi Negeri Hukurila, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif tentang asal-usul dan kebudayaan negeri agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Cerita rakyat yang sebelumnya hanya hidup dalam ingatan dan tuturan masyarakat kini memperoleh ruang baru untuk didokumentasikan, dipelajari, dan diperkenalkan melalui karya seni.
Pada akhirnya, Bacarita Asal tidak sekadar menjadi kegiatan kesastraan, tetapi juga upaya menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Melalui cerita yang terus dituturkan dan diolah menjadi karya, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal warisan budaya mereka, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meneruskan dan mengembangkannya.
Sebab, ketika cerita rakyat terus hidup di tengah masyarakat, ingatan tentang asal-usul tidak akan berhenti sebagai kisah masa lalu, melainkan menjadi bagian dari perjalanan generasi yang akan datang. (BN Grace)









