Maluku,Bedahnusantara.com:Taman Budaya Provinsi Maluku menggelar pagelaran seni antar sanggar dengan menampilkan sanggar Tifa Siwalima, sanggar Boyratan, SanggarAlam Pahanasa , sanggar Amanisal String esamble musik SMP Negeri 4 Ambon yang berlangsung secara virtual, Jumat (30/7/2021).
![]() |
| Taman Budaya Provinsi Maluku Gelar Pagelaran Seni Antar Sanggar |
Sanggar Tifa Siwalima menampilkan tarian Martha Christina Tiahahu, Sanggar Boyratan dengan lagu sopo-spo dan Nusaniwe tanjung alang, Sanggar alam Pahanasa dengan tarian dan String esemble musik SMP N 4 Ambon
Donci for mama, ayo mama dan tanah air yang berlangsung di lokasi Taman Budaya.
Kepala Taman Budaya Provinsi Maluku Drs Semmy Toisutta mengatakan, Taman Budaya Provinsi Maluku melaksanakan, kegiatan pergelaran antar sanggar memiliki banyak sanggar di daerah ini tapi kita mesti jujur menyatakan bahwa atmosfer berkesenian di dalam masa ini tidak menjanjikan.
“Mengapa tidak menjanjikan karena, dalam masa ini, kita ketemu dengan physical distancing, kita ketemu dengan protokol kesehatan, dan kita ketemu dengan PPKM,” ujarnya.
Dia mengakui, .banyak waktu yang memang tidak bisa memberi ruang kepada kita dalam berekspresi berkesenian, sehingga sangar yang ada mati suri dalam pertunjukan, makanya hal itu tidak bisa dihindari dengan protokol kesehatan.
“Keadaan ini harus kita sama-sama terlibat di dalamnya bersama pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19,” paparnya.
Untuk melakukan pertunjukan dalam skala besar secara luring tidak dapat dilakukan, makanya pertunjukan dilakukan secara daring untuk menghidupkan para pelaku kesenian di sanggar seni.
“Taman Budaya melaksanakan pagelaran seni yang dilakukan agar, sanggar-sanggar yang memiliki kapasitas terukur untuk tampil kita kasih ruang sehingga seniman hidup dan sanggar pun hidup,” ungkapnya.
Dalam pagelaran seni, setiap sanggar diberikan waktu yang berbeda-beda sehingga, mereka tidak kontak fisik makanya, dapat dilakukan secara daring.
“Nah semua kegiatan ini didukung dengan anggaran Dana Alokasi Khusus dari Kementrian Direktorat Jenderal kebudayaan agar, para seniman tidak mati karena, mereka mati dalam ekspresi akibat, pandemi Covid-19 dan mati secara ekonomi,” terangnya.
Dia berharap, sanggar, komunitas, kelompok kesenian maupun seniman tidak berhenti karena keadaan Covid-19 walaupun, belum ada waktu untuk ditampilkan namun, kita tetap memperbanyak repertoar, sehingga sewaktu-waktu kita tinggal keluar untuk membuat pertunjukan,” tandasnya.(BN-02)






