Editor: Redaksi
Ambon: Bedahnusantara.com: Kesabaran para guru di sejumlah sekolah dasar di Kota Ambon mulai berada di titik jenuh. Janji penyelesaian pembayaran insentif dari pihak SPPG Kudamati yang sebelumnya disampaikan kepada media, hingga kini tak kunjung terealisasi. Hak para guru yang terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun masih tertahan selama berbulan-bulan tanpa kejelasan.
Sekolah yang terdampak dalam persoalan ini yakni SD Negeri 8 Ambon, SD Negeri 14 Ambon, SD Negeri 82 Ambon, dan SD Negeri 83 Ambon. Para guru di empat sekolah tersebut hingga pertengahan Mei 2026 masih menunggu pembayaran insentif yang seharusnya sudah diterima sesuai mekanisme pembayaran setiap dua minggu sekali.
Kekecewaan semakin memuncak setelah Koordinator SPPG Kudamati, Yessy Lelaparry, sebelumnya telah memberikan komitmen kepada media Bedahnusantara.com. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu, Yessy menyatakan seluruh tunggakan insentif guru akan diselesaikan pada 6 Mei 2026. Pernyataan itu sempat memberi harapan bagi para guru yang sudah lama menanti hak mereka dibayarkan.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Hingga berita ini diterbitkan, janji tersebut belum juga ditepati. Tidak ada pembayaran, tidak ada penjelasan resmi, bahkan tidak ada kepastian kapan tunggakan tersebut akan diselesaikan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait komitmen pihak SPPG Kudamati terhadap para tenaga pendidik yang selama ini ikut mendukung jalannya program MBG di sekolah-sekolah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembayaran terakhir yang diterima para guru terjadi pada 6 Februari 2026. Saat itu, para guru menerima insentif sebesar Rp30 ribu per hari yang dibayarkan untuk periode kerja selama dua minggu. Setelah pembayaran tersebut, tidak ada lagi pencairan yang dilakukan hingga memasuki bulan Mei 2026. Artinya, sudah lebih dari tiga bulan para guru menjalankan tugas tanpa menerima hak mereka sebagaimana yang telah dijanjikan.
Padahal, skema pembayaran insentif itu sejak awal disebut akan dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali. Fakta bahwa pembayaran berhenti sejak Februari menimbulkan keresahan dan kekecewaan mendalam di kalangan guru penerima. Sebab, mereka tetap menjalankan tanggung jawab dalam mendukung program pemerintah tersebut, sementara hak finansial mereka justru tertunda tanpa kejelasan.
Ironisnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program nasional yang didukung anggaran besar dari pemerintah. Besarnya anggaran yang digelontorkan justru memunculkan tanda tanya di lapangan, mengapa pembayaran insentif kepada para guru di tingkat sekolah bisa tersendat hingga berbulan-bulan. Situasi ini menimbulkan dugaan adanya persoalan dalam tata kelola maupun distribusi anggaran di tingkat pelaksana.
Kepala Sekolah SD Negeri 8 Ambon, Jonna Takaria, saat dihubungi langsung melalui pesan WhatsApp, Rabu (13/5/2026), membenarkan bahwa hingga saat ini insentif para guru belum juga dibayarkan oleh pihak SPPG Kudamati.
“Memang sampai saat ini belum ada pembayaran lagi,” ungkapnya singkat.
Pernyataan tersebut semakin menguatkan fakta bahwa persoalan tunggakan insentif ini benar-benar terjadi dan belum menemukan titik penyelesaian.
Para guru kini tidak lagi membutuhkan janji baru ataupun alasan yang berulang. Mereka hanya meminta hak mereka dibayarkan sesuai komitmen yang telah disampaikan. Sebab bagi tenaga pendidik, insentif tersebut bukan sekadar nominal Rp30 ribu per hari, melainkan bentuk penghargaan atas waktu, tenaga, dan pengabdian yang telah mereka berikan demi menyukseskan program pemerintah.
Jika persoalan ini terus dibiarkan tanpa penyelesaian, bukan tidak mungkin kepercayaan terhadap pelaksana program di lapangan akan semakin terkikis. Janji yang tak kunjung ditepati kini berubah menjadi kekecewaan yang terus menumpuk di hati para guru. (BN Grace)





