Prodita Kusuma Soroti Ketahanan Finansial dan Kepercayaan Publik terhadap Media Digital

IMG 6338 scaled

Editor: Redaksi

AMBON, Bedahnusantara.com: Kabid Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan AMSI Nasional, Prodita Kusuma Sabarini, menyoroti tantangan ketahanan finansial, kepercayaan publik, dan independensi jurnalistik yang dihadapi perusahaan media di tengah perkembangan ekosistem digital.

Hal tersebut disampaikan Prodita saat memaparkan materi dalam diskusi panel Konferensi Wilayah (Konferwil) III Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Maluku di SeT Hotel Ambon, Selasa (20/10/2026).

Dalam paparannya, Prodita menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, termasuk penggunaan media sosial sebagai saluran distribusi konten, menuntut perusahaan pers untuk terus beradaptasi. Namun, transformasi digital tidak cukup hanya berfokus pada teknologi dan jangkauan audiens, melainkan juga harus memperhatikan keberlanjutan bisnis media.

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

Ia menyinggung persoalan kepercayaan publik terhadap media yang menjadi salah satu modal penting dalam menjaga keberlangsungan industri jurnalistik. Berdasarkan angka yang dipaparkan dalam forum tersebut, tingkat kepercayaan terhadap media lokal disebut berada di kisaran 30 persen, sedangkan media independen berada di angka 24 persen. Angka tersebut masih perlu dikonfirmasi berdasarkan sumber survei yang digunakan.

Menurut Prodita, tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan kepercayaan masyarakat menjadi dukungan nyata bagi keberlangsungan perusahaan media, termasuk melalui model bisnis digital yang berkelanjutan.

Dorong Diversifikasi Pendapatan Media

Prodita menjelaskan, sejumlah perusahaan media telah mencoba mengembangkan model pendapatan alternatif melalui sistem berlangganan atau subscription, serta keanggotaan yang memungkinkan pembaca memberikan kontribusi finansial untuk mendukung operasional media.

Meski demikian, model tersebut belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan perusahaan pers. Karena itu, media perlu mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam tanpa mengorbankan independensi dan kualitas jurnalistik.

Ia mendorong perusahaan media untuk menjajaki program pendanaan yang mendukung pengembangan jurnalistik, membangun kemitraan strategis, serta mengembangkan unit usaha yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing perusahaan.

Diversifikasi pendapatan dinilai penting agar media tidak terlalu bergantung pada satu sumber pembiayaan, sekaligus tetap mampu menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyediakan informasi berkualitas bagi masyarakat.

Perjuangkan Kompensasi yang Adil dari Platform Digital

Selain mendorong inovasi bisnis di tingkat perusahaan, Prodita menyoroti pentingnya langkah advokasi untuk memperjuangkan ekosistem digital yang lebih adil bagi industri pers.

Salah satu agenda yang disoroti adalah upaya mendorong negosiasi dengan platform digital agar perusahaan media memperoleh kompensasi yang lebih adil atas pemanfaatan konten jurnalistik.

Ia juga menyinggung pengawalan revisi Undang-Undang Hak Cipta atau regulasi terkait hak kekayaan intelektual, terutama dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Menurutnya, pengaturan lisensi penggunaan konten jurnalistik oleh teknologi AI berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi perusahaan media, sepanjang terdapat mekanisme yang jelas dan memberikan perlindungan terhadap hak para pemilik konten.

Selain itu, dukungan pembiayaan publik melalui skema journalism fund turut menjadi salah satu opsi yang perlu didorong untuk mendukung keberlanjutan jurnalisme berkualitas.

Liputan Lokal Harus Diperkuat

Prodita juga menekankan pentingnya memperkuat liputan lokal sebagai bagian dari strategi menjaga relevansi media di tengah masyarakat.

Media lokal memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang dekat dengan kebutuhan warga, termasuk mengungkap dampak kebijakan dan program nasional yang dilaksanakan di daerah.

Menurutnya, pemberitaan lokal yang mendalam tidak hanya dibutuhkan masyarakat setempat, tetapi juga dapat membantu masyarakat di tingkat nasional memahami kondisi dan dampak pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

Karena itu, perusahaan media perlu terus meningkatkan kapasitas jurnalis, memperkuat kualitas peliputan, serta menghasilkan informasi yang akurat, terverifikasi, dan berpihak pada kepentingan publik.

Paparan Prodita dalam diskusi panel Konferwil III AMSI Maluku tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan media digital membutuhkan kombinasi antara inovasi model bisnis, dukungan kebijakan yang adil, kepercayaan publik, dan komitmen terhadap independensi jurnalistik.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem media siber Indonesia agar tetap mampu menjalankan fungsi informasinya secara profesional di tengah perubahan industri digital yang semakin dinamis. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan