Pentingnya Mempelajari Kaidah Bahasa Indonesia Bagi Mahasiswa

IMG 20251204 WA0001

Editor : Redaksi

Ambon, Bedahnusantara: Dunia perguruan tinggi atau perkuliahan adalah salah satu fase penting dalam jenjang dunia pendidikan dari seorang mahasiswa.

Dalam menjalani fase tersebut, seorang mahasiswa akan mendapatkan sejumlah mata kuliah dasar yang menjadi fondasi akademik dari seorang mahasiswa.

Termasuk salah satunya adalah “Pendidikan Bahasa Indonesia”. Salah mata kuliah dasar yang seringkali dipandang rendah dan dianggap tidak penting.

Padahal salah satu mata kuliah dasar ini, sangat menentukan masa depan dan keberhasilan seseorang mahasiswa selama menjalankan masa perkuliahan hingga pada saat dimana sang mahasiswa akan menyusun tugas akhir dan skripsinya.

menyikapi pentingnya mata kuliah pendidikan bahasa Indonesia dalam dunia perguruan tinggi, membuat hal ini kemudian tidak dapat dianggap sepele atau tidak berarti

Salah satu staf pengajar Mata kuliah “Pendidikan Bahasa Indonesia, di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Lisse Pattipeiluhu, S.Pd., M.Pd. menjadi tokoh penting yang berhasil mencerahkan dan membuka paradigma dan cara berfikir mahasiswa terkhususnya mahasiswa fakultas hukum, tentang pentingnya pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi (kampus).

Dijelaskan Pattipeiluhu, seringkali mahasiswa melakukan banyak kesalahan saat menyusun berbagai tugas, karya ilmiah, penelitian, dan skripsi. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya pemahaman terkait sejumlah kaidah dalam pendidikan Bahasa Indonesia, seperi misalnya rangkain kata dan kalimat yang tersusun dan menjadi sebuah “Paragraf”.

Padahal Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Gagasan Utama dan kalimat topik merupakan hal yang sering disarankan pemahamannya oleh penggunaan Bahasa.

Dikatakannya, Dalam sebuah paragraf yang baik, gagasan Utama merupakan pengendali yang harus ada, sedangkan kalimat topik merupakan kalimat yang memuat gagasan Utama.

Dengan kata lain, lanjutnya, kalimat topik menyatakan gagasan Utama dalam sebuah paragraf, tetapi tidak semua gagasan Utama perlu dituangkan dalam kalimat topik.

Dalam prakteknya, jelas Pattipeiluhu, Kerangka Tulisan, Jenis tulisan Berdasarkan paragraf dibedakan pada letak utamanya dan berdasarkan pola umum perkembangannya, menjadi “Paragraf Deduktif dan Paragraf Induktif”.

Paragraf Deduktif, adalah paragraph yang meletakan kalimat topik pada awal paragraf. Sedangkan Paragraf Induktif, adalah paragraph yang meletakan kalimat topik pada akhir paragraf.

Selain itu Paragraf juga memiliki peran lainnya yang dapat dijabarkan dalam empat bagian yakni; Paragraf Deskriptif, Eksposisi, Argumentatif,dan Naratif.

Paragraf tersebut dapat dikenali dengan ciri khasnya tersendiri seperti pada Paragraf Deskriptif: adalah Paragraf yang melukiskan lukisan yang terlihat di depan mata, jadi paragraph ini bersifat “tata ruang atau tata letak”.

Sementara Paragraf Eksposisi: adalah paragraph yang di kenali dengan istilah paragraf paparan. Sebab Paragraf ini menampilkan suatu objek.

Penyampaian dalam paragraf ini dapat menggunakan pengembangan analisis kronologis dan keruangan.

Selanjutnya ada Paragraf Argumentatif: adalah paragraf yang sifatnya membujuk atau mencoba meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek.

Kemudian ada juga Paragraf Naratif: adalah paragraf yang berhubungan dengan cerita. Oleh sebab itu Paragraf ini dapat ditemukan dalam Novel, Cerpen, atau Hikayat.

Lebih lanjut diungkapkannya, dalam pengembangannya paragraf kemudian terbagi menjadi sebanyak kurang lebih delapan bagian yakni; Penambahan, Urutan Peristiwa dan Waktu, Perlawanan dan pertentangan, Peningkatan, Sebab akibat, syarat, Klimaks, Hubungan kelogisan antar kalimat.

Kemudian, ungkapnya, kita juga akan belajar mengenali suatu bentuk lain lagi yang Namanya “Wacana”, yang merupakan satuan Bahasa lisan atau tulisan yang memiliki keterkaitan atau kepaduan yang bermakna yang digunakan dalam bentuk komunikasi.

Dalam gramatikal nya Wacana terbagi atas Proposisi atau kata Depan, Konjungsi atau kata penghubung, Numeralia atau kata bilangan, Verba atau kata kerja, Hiponimi atau hubungan makna antar kata, Sinonim atau Kata-kata yang berbeda bentuk tapi memiliki makna yang sama atau hampir sama dan Antonim atau kata-kata yang berlawan makna.

Sedangkan dalam wacana tersebut dikenali sebagai makna.

Selanjutnya kita juga akan mempelajari mengani “Karangan” atau yang dikenal sebagai sebuah tulisan yang tersusun secara sistematis, utuh, dan mengandung gagasan lengkap dari penulisnya.

Karangan itu sendiri terbagi dalam beberapa golongan berdasarkan bobot isinya yakni; “karangan ilmiah” adalah karangan yang dapat berbentuk (laporan, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi), kemudian ada “karangan semi ilmiah” adalah karangan yang dapat berbentuk (Artikel, editorial, Opini, Feature, dan reportase), serta yang terakhir “karangan non ilmiah” adalah bentuk karangan yang berupa (anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, novel dan lainnya)

Dalam penyusunan atau pembuatan sebuah karangan yang baik dan benar, diperlukan yang namanya “Kerangka karangan”.

Sebab dalam pemanfaatannya sebuah kerangka karangan memiliki sejumlah manfaat penting seperti; Untuk Menyusun karangan secara teratur, memudahkan penulis menciptakan klimaks, menghindari penerapan topik secara dua kali, memudahkan mencari data-data atau fakta.

Untuk membuat sebuah karangan, kita harus memperhatikan sejumlah syarat yang menjadi pedoman agar karya tulis berupa karangan tersebut menjadi baik dan benar.

Syarat-syarat tersebut diantaranya; Pengungkapan maksud harus jelas, Tiap unit mengandung satu gagasan utama, Pokok pikiran harus di susun secara logis dan konsisten.

Bahkan saat menyusun sebuah karangan, ada langkah-langkah yang mesti diperhatikan oleh seorang penulis (Mahasiswa) yaitu: Rumuskan tema, Inventarisasi topik-topik, Evaluasi Topik, Memilih topik yang tepat, Evaluasi topik lebih lanjut, Evaluasi topik secara berulang, dan Menentukan pola susunan yang paling tepat.

Selanjutnya, kata Lisse, kita juga akan mempelajari terkait ” Kutipan dan Daftar Pustaka”. Seperti kita ketahui “Kutipan” adalah pinjaman kalimat atau pendapat seseorang pengarang atau penulis.

Kutipan itu sendiri terbagi menjadi dua yakni; Kutipan langsung dan Kutipan tidak langsung.

Kutipan Langsung adalah; pendapat yang di ambil dan ditulis secara lengkap sesuai dengan teks aslinya. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah; pendapat yang diambil hanya intisarinya saja.

Ketika kita membuat sebuah kutipan baik itu kutipan langsung maupun tidak langsung, kita dituntut untuk memperhatikan sejumlah indikator yakni; Kutipan langsung biasanya tidak lebih dari empat baris. Kutipan ini di integrasikan dengan teks, jaraknya dua spasi, kutipan diapit dengan tanda kutip, sesudah kutipan selesai, diberi nomor urut jika menggunakan catatan kaki atau catatan pustaka.

Sedangkan kutipan tidak langsung kita mesti melihat pada: Kutipan diintegrasikan pada teks, jarak dua spasi, tidak menggunakan tanda kutip, dan sesudah kutipan selesai diberi nomor urut jika menggunakan catatan kaki atau catatan pustaka.

Akan tetapi dalam prosesnya, ternyata kutipan langsung, dapat juga berjumlah lebih dari empat baris, dengan memperhatikan: Kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak dua spasi, jarak kutipan satu spasi, tidak menggunakan tanda petik, setelah selesai mengutip diberi nomor urut jika menggunakan catatan kaki atau catatan pustaka, kutipan ini menjorok kedalam sejauh 5-7 ketukan. Jika kutipan dimulai dengan paragraf baru, kata kutipan pertama didirikan lagi dengan paragraf sejauh 5-7 ketukan.

Tidak hanya itu, lebih lanjut kita juga akan mempelajari mengenai “Daftar Pustaka”, yang mana Daftar Pustaka atau bibliografi adalah semua sumber yang menjadi rujukan seorang penulis dalam kegiatannya menulis sebuah karya ilmiah.

seperti kita ketahui, dalam prakteknya seringkali mahasiswa melakukan banyak sekali kesalahan fatal ketika menyusun sebuah daftar pustaka dari sebuah karya ilmiah.

Oleh sebab itu alangkah baiknya jika kita juga mesti memperhatikan dan mengetahui unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah daftar pustaka, dan unsur-unsur tersebut antara lain: nama penulis, tahun terbitan sumber yang bersangkutan, judul sumber yang dipakai sebagai referensi dan data publikasi dalam hal ini (nama tempat terbit dan nama penerbit).

Sementara itu dalam menyusun sebuah daftar pustaka, beberapa hal perlu diperhatikan yaitu: baris pertama dimulai pada pias (margin) sebelah kiri, baris kedua dan selanjutnya dimulai dengan 3-5 ketukan kedalam, dan jarak antar baris itu 1,5 atau 2 spasi, serta diurut berdasarkan abjad.

Kita kemudian juga akan mempelajari mengenai “Karya Ilmiah” yang merupakan sebuah laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang dilakukan oleh seorang (mahasiswa) atau sebuah lembaga, sebuah tim dengan memenuhi etika atau kaidah keilmuan.

Tujuan kita memahami dan mengerti tentang sebuah karya ilmiah, adalah karena karya ilmiah memiliki sejumlah tujuan penting seperti: melatih seseorang untuk mengungkapkan pikirannya sesuai dengan hasil pengamatan, juga sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi pembaca, bukti nyata bahwa pelajar (mahasiswa) memiliki pengetahuan dan potensi ilmiah untuk menghadapi dan memecahkan suatu masalah, serta menciptakan seseorang pelajar yang memiliki kemampuan dalam membuat karya tulis.

Sebelum menulis sebuah karya ilmiah, ada tiga hal penting yang mesti diperhatikan yakni; Pemilihan topik atau pokok bahasan, penentuan judul dan pembuatan kerangka karya ilmiah (outline).

Dan hal yang paling penting dalam hidup dan proses seorang mahasiswa dalam masa perkuliahan adalah bagaimana ia dapat menyusun skripsi yang menjadi tugas akhirnya.

Hal ini, lanjutnya, menjadi penting sebab itu kita mesti mempelajari bagaimana menyusun atau menulis sebuah “Skripsi” yang baik dan benar.

Dalam prakteknya, seringkali banyak mahasiswa mengalami beberapa kali perbaikan dan pengulangan dalam menyusun atau menulis sebuah skripsi.

Hal tersebut dikarenakan para mahasiswa tersebut sering mengabaikan dan mengesampingkan sejumlah ketentuan dasar yang mesti dimilki oleh sebuah skripsi. Sehingga pada akhirnya skripsi mereka mendapat penolakan atau permintaan untuk diperbaiki kembali.

Olehnya, dalam penyusunan sebuah skripsi yang baik, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi oleh sang penyusun skripsi (mahasiswa) yakni “Sistematika”.

Karena itu untuk membuat sebuah skripsi yang baik dan sempurna terdapat hal mendasar yang dikenal dengan nama “struktur dan sistematika” penulisan naskah skripsi. Struktur dan sistematika skripsi ini terdiri atas: Bagian awal, bagian utama, dan bagian akhir.

Pada bagian awal skripsi, terdapat sejumlah bagian yang mesti tertuang didalam struktur skripsi tersebut yakni; halaman sampul dan logo, kemudian halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman peryataan orisinalitas, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, daftar arti lambang, singkatan dan istilah.

Selanjutnya pada bagian utama skripsi terdapat: bab I pendahuluan, latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian manfaat penelitian,bab II tinjauan pustaka, tinjauan umum, kerangka konsep penelitian, hipotesis penelitian, bab III metode penelitian, penelitian kuantitatif, penelitian kuantitatif, bab IV hasil dan pembahasan, hasil, pembahasan, bab V penutup, kesimpulan.

kemudian pada bagian akhir dari skripsi yang di susun terdapat: daftar pustaka, dan lampiran.

Selain itu ada aspek yang tidak kalah penting untuk dipahami dan dipedomani oleh setiap mahasiswa yang hendak melakukan penyusunan skripsi. Hal tersebut adalah: Bahan dan ukuran yang terdiri atas; pengetikan pada kertas A4 80 gram, selanjutnya ukuran huruf 12 cm dengan jenis huruf adalah Time New Roman; kecuali untuk judul halaman sampul 14 pada ukuran font.

tidak hanya itu, hal lain juga yang mesti diperhatikan bahwa semua judul harus di bold: judul skripsi, judul bab, judul sub bab. Dan juga setiap bab diketik pada halaman baru dan menggunakan angka romawi.

serta yang paling terakhir adalah judul sub bab didahului dengan huruf kapital (A,B,C..) judul sub bab didahului dengan angka. Termasuk juga pada bagian sembir atau margin harus diperhatikan ukurannya yakni; 4 cm dari tepi atas, 3 cm dari tepi bawah, 4 cm dari tepi kiri, serta 3 cm dari tepi kanan.

Olehnya, Pattipeiluhu berpesan kepada semua mahasiswa dimanapun, untuk jangan pernah memandang rendah Mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia, sebab mata kuliah ini termasuk penentu akhir perjalanan anda dalam dunia perguruan tinggi. (BN-08)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan