Editor: Redaksi
JAKARTA, Bedahnusantara.com: Demokrasi tidak hanya diukur darikebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga darikemampuan masyarakat memahami persoalan, mengujikebenaran informasi, dan menentukan sikap secarabertanggung jawab. Di tengah derasnya arus informasidan beragamnya pandangan mengenai kebijakan publik, generasi muda memiliki peran strategis dalammemastikan bahwa partisipasi demokratis berlangsungsecara rasional, konstruktif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Pesan tersebut mengemuka dalam podcast “Bersama Menjaga Bangsa” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) pada 9 Oktober 2026 di Studio Assa Podcast, Sekretariat PP GMKI, Salemba, Jakarta Pusat. Diskusi menghadirkanMartin Khisna, Wakil Sekretaris Jenderal Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66, serta Fransiskus X. Gian Tue Mali, S.I.Kom., M.Si., Ketua Program Studi IlmuPolitik Universitas Kristen Indonesia (UKI) sekaligusPembina Pusat Studi Papua FISIPOL UKI. Diskusidipandu Simon Batmomolin, Sekretaris Fungsi Ekonomi Kreatif PP GMKI.
Ketiga narasumber menyoroti pentingnya pemahamanterhadap sejarah perjuangan pemuda, kecermatan dalammenyikapi kebijakan publik, serta penggunaan nalar kritisdalam merespons berbagai isu yang berkembang di ruangpublik.
Memahami Persoalan Sebelum Menentukan Sikap
Kebebasan berpendapat merupakan bagian mendasardari kehidupan demokratis. Namun, kebebasan tersebutakan lebih bermakna apabila disertai pemahaman yang memadai mengenai persoalan yang dibahas, tujuan yang hendak dicapai, dan konsekuensi dari sikap yang diambil.
Fransiskus X. Gian Tue Mali menekankan pentingnyaperspektif akademis dalam membaca dinamika politik dan kebijakan publik. Menurutnya, masyarakat, terutamagenerasi muda, perlu memahami akar permasalahan dan mempertimbangkan berbagai alternatif penyelesaiansebelum menentukan sikap.
Ia menyoroti kecenderungan munculnya reaksi berlebihanterhadap sejumlah program pemerintah akibatpemahaman yang tidak utuh. Karena itu, pembahasankebijakan perlu dilakukan secara cermat denganmempertimbangkan data, konteks, mekanismepelaksanaan, dan manfaat yang hendak dicapai.
Pendekatan tersebut penting agar perbedaan pendapattidak berhenti pada pertentangan, tetapi berkembangmenjadi diskusi yang menghasilkan pemahaman dan rekomendasi perbaikan. Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi idealnya dibangun melalui proses penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Aksi Massa Memerlukan Tujuan dan Dasar yang Jelas
Dalam demokrasi, aksi massa merupakan salah satubentuk penyampaian aspirasi yang sah. Meski demikian, efektivitasnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah pesertaatau kuatnya tuntutan, tetapi juga oleh kejelasanpersoalan yang diperjuangkan, tujuan yang ingin dicapai, serta alternatif penyelesaian yang ditawarkan.
Simon Batmomolin berpandangan bahwa aksi massahendaknya ditempatkan sebagai pilihan setelahmekanisme dialog dan komunikasi dengan pemerintahdiupayakan. Pandangan ini menekankan pentingnyamemanfaatkan saluran penyampaian aspirasi secaraproporsional sebelum mengambil langkah yang melibatkan mobilisasi masyarakat.
Sebelum suatu persoalan diangkat menjadi gerakankolektif, diperlukan identifikasi masalah yang konkret, pemeriksaan informasi pendukung, serta perumusantuntutan yang terukur. Langkah tersebut membantumemastikan bahwa partisipasi publik benar-benardiarahkan untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadarmengikuti arus opini atau merespons informasi yang belum terverifikasi.
Dalam konteks ini, dialog tidak berarti menghindari kritik. Sebaliknya, dialog dapat menjadi sarana untuk mengujiargumentasi, mempertemukan kepentingan yang berbeda, dan mencari jalan keluar yang dapat diterima secararasional. Apabila berbagai saluran penyelesaian tidakmenghasilkan kemajuan, masyarakat tetap memiliki hakuntuk menyampaikan pendapat melalui cara-cara yang sesuai dengan hukum.
Dengan demikian, yang perlu diperkuat bukanpembatasan partisipasi, melainkan kualitas pertimbangansebelum masyarakat menentukan bentuk dan langkahpenyampaian aspirasinya.
Belajar dari Sejarah, Menjawab Tantangan Masa Kini
Martin Khisna mengingatkan bahwa perjuangan pemuda pada 1966 merupakan bagian penting dari sejarahpergerakan mahasiswa Indonesia dalam meresponsdinamika politik dan ekonomi nasional. Pengalamantersebut dapat menjadi pembelajaran mengenai perangenerasi muda dalam memperjuangkan kepentinganbangsa.
Namun, tantangan setiap generasi memiliki konteks yang berbeda. Semangat perjuangan masa lalu perluditerjemahkan ke dalam kemampuan membaca persoalanmasa kini, memahami kepentingan nasional, dan berkontribusi melalui langkah-langkah yang relevandengan kebutuhan masyarakat.
Martin mencontohkan sejumlah program pemerintah, antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), KoperasiDesa/Kelurahan Merah Putih, dan Kampung Nelayan Merah Putih. Program-program tersebut memiliki sasaranyang berbeda, mulai dari peningkatan kualitas sumberdaya manusia hingga penguatan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan nelayan.
Menurutnya, pemuda perlu memahami tujuan dan arahkebijakan sebelum memberikan penilaian. Pemahamantersebut tidak harus berujung pada dukungan tanpasyarat. Sebaliknya, pengetahuan yang memadaimemungkinkan generasi muda melakukan pengawasan, mengevaluasi pelaksanaan program, dan menyampaikanrekomendasi berdasarkan kondisi nyata.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepentingannasional dalam menghadapi berbagai pengaruh eksternal. Penilaian terhadap dugaan pengaruh tersebut, bagaimanapun, perlu didasarkan pada informasi dan buktiyang memadai agar kewaspadaan tidak berkembangmenjadi prasangka yang tidak berdasar.
Literasi Digital di Tengah Persaingan Narasi
Media sosial telah menjadi ruang penting bagi masyarakatuntuk bertukar informasi, menyampaikan kritik, dan membangun kesadaran terhadap persoalan publik. Namun, kecepatan penyebaran informasi tidak selaludiikuti oleh ketepatan pemahaman.
Fransiskus menyoroti narasi seperti “Indonesia Gelap” dan “Indonesia Bangkrut” yang berkembang di ruang digital. Menurutnya, narasi semacam itu perlu dikaji berdasarkandata, konteks, dan evaluasi kebijakan, bukan sekadarditerima atau disebarkan karena popularitasnya.
Prinsip yang sama berlaku terhadap informasi yang mendukung pemerintah. Setiap klaim, baik berupa kritikmaupun pembelaan, perlu diuji melalui sumber yang kredibel dan argumentasi yang logis.
Literasi digital karena itu tidak cukup hanya berupakemampuan mengakses informasi. Generasi muda juga perlu mampu membedakan fakta dan opini, mengenalikonteks suatu peristiwa, membandingkan sumber, sertamenghindari penyebaran informasi yang belum dapatdipastikan kebenarannya.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketikasuatu isu berkembang menjadi perdebatan luas ataumemicu dorongan untuk melakukan tindakan kolektif. Memahami persoalan secara utuh dapat membantumasyarakat menentukan respons yang lebih tepat, proporsional, dan sesuai dengan tujuan yang hendakdicapai.
Kritik Konstruktif sebagai Bagian dari PengawasanPublik
Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagianpenting dari mekanisme pengawasan dalam demokrasi. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dapatmembantu mengidentifikasi kelemahan pelaksanaanprogram, memperjelas kebutuhan masyarakat, dan mendorong perbaikan tata kelola.
Namun, kritik yang efektif membutuhkan lebih darisekadar penolakan. Argumentasi yang kuat perlumenjelaskan persoalan yang ditemukan, pihak ataumekanisme yang perlu diperbaiki, serta alternatifpenyelesaian yang memungkinkan untuk dilaksanakan.
Martin menekankan bahwa pemuda dapat berkontribusimelalui pengawasan dan evaluasi terhadap program pembangunan. Sementara itu, Fransiskus menggarisbawahi pentingnya penalaran logis dan buktiyang dapat dipertanggungjawabkan dalam menyampaikankritik. Kedua pandangan tersebut memperlihatkan bahwadukungan dan pengawasan tidak harus dipertentangkan.
Masyarakat dapat mengapresiasi tujuan suatu program sekaligus mengkritisi pelaksanaannya. Sebaliknya, penilaian negatif terhadap suatu kebijakan juga perludisertai dasar yang jelas agar kritik tidak kehilangansubstansi.
Dengan pendekatan tersebut, kritik dapat berfungsisebagai masukan bagi perbaikan kebijakan, bukansemata-mata menjadi sarana memperbesar polarisasi.
Mempersiapkan Generasi untuk Indonesia Emas 2045
Pembahasan dalam podcast turut menyoroti pentingnyaperan generasi muda dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Fransiskus menilai bahwa pencapaian visi tersebutmemerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasukpemerintah dan generasi muda yang akan menjadipemimpin serta penggerak pembangunan di masa depan.
Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuatkualitas sumber daya manusia. Namun, pencapaiantujuan pembangunan jangka panjang juga memerlukanpelaksanaan program yang tepat sasaran, evaluasiberkelanjutan, dan kemampuan merespons persoalanyang muncul di lapangan.
Generasi muda perlu mempersiapkan diri melaluipenguatan kapasitas intelektual, integritas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Mereka tidak hanya menjadipenerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapatberperan sebagai pengawas, inovator, dan penyampaigagasan untuk memperbaiki kebijakan publik.
Keterlibatan tersebut menuntut keseimbangan antaraidealisme dan kecermatan dalam bertindak. Semangatperubahan perlu disertai pemahaman terhadap persoalan, kemampuan mengelola perbedaan, dan kesediaanmempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan.
Menjaga Bangsa dengan Sikap Kritis dan Bertanggung Jawab
Podcast “Bersama Menjaga Bangsa” menegaskan bahwakualitas demokrasi tidak hanya bergantung pada tersedianya ruang kebebasan, tetapi juga pada kedewasaan masyarakat dalam menggunakan kebebasantersebut. Generasi muda memiliki peran penting untukmenjaga ruang publik tetap terbuka bagi kritik sekaligusterlindungi dari penyebaran informasi yang menyesatkandan penilaian yang terburu-buru.
Setiap persoalan publik perlu dipahami berdasarkan fakta, setiap kebijakan perlu dievaluasi secara objektif, dan setiap aspirasi perlu disampaikan dengan tujuan yang jelas. Dialog, kritik, pengawasan, dan aksi massa memilikitempat dalam demokrasi, tetapi penggunaannya perlumempertimbangkan karakter persoalan, efektivitaslangkah, serta kemungkinan penyelesaian yang tersedia.
Menjaga bangsa bukan berarti menghindari perbedaanpendapat. Menjaga bangsa berarti memastikan bahwaperbedaan tersebut dikelola melalui cara-cara yang bertanggung jawab, tanpa mengorbankan nalar kritis, kepentingan masyarakat, dan penghormatan terhadaphukum.
Pada akhirnya, kontribusi pemuda tidak diukur semata-mata dari seberapa keras suara yang disampaikan, tetapijuga dari seberapa kuat argumentasi yang dibangun dan seberapa nyata solusi yang ditawarkan. Demokrasi yang sehat membutuhkan generasi muda yang berani bersikapkritis, cermat memeriksa informasi, terbuka terhadapdialog, dan mampu mengubah kepedulian menjaditindakan yang bermanfaat bagi masyarakat. (BN Grace)










