Ambon,Bedahnusantara.com-Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 42 kecamatan di Provinsi Maluku pada
Maret 2024, diketahui bahwa NTP Provinsi Maluku secara rata-rata mengalami penurunan 0,15
persen dibanding Februari 2025, atau turun dari 101,95 pada Februari 2025 menjadi 101,80 pada
Maret 2025. Penurunan NTP disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian (It) yang
tercatat meningkat sebesar 0,21 persen, lebih rendah dari peningkatan indeks harga yang dibayar
petani (Ib) yang tercatat sebesar 0,35 persen.
Hal itu disampaikan Kepala BPS Provinsi Maluku Maritje Pattiwaellapia dalam rilis Selasa ( 08/04/25)
Penurunan NTP pada Maret 2025 disumbangkan oleh menurunnya NTP pada tiga subsektor,
yaitu subsektor tanaman pangan (-1,29 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (-0,43
persen) dan subsektor perikanan (-0,53 persen). Sedangkan dua subsektor lainnya mengalami
peningkatan NTP, yaitu subsektor hortikultura (2,37 persen) dan subsektor peternakan (0,85
persen).
Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (It) dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga
komoditas pertanian yang dihasilkan oleh petani. Data dalam Tabel 1 menunjukkan bahwa indeks
harga yang diterima oleh petani (It) Provinsi Maluku pada Maret 2025 sebesar 124,72 atau naik
sebesar 0,21 persen dibanding It Februari 2025 yang tercatat sebesar 124,46.
Jika dilihat per subsektor, dua subsektor mengalami peningkatan It, dengan peningkatan It
tertinggi disumbangkan oleh subsektor hortikultura yaitu sebesar 2,94 persen”jelasnya
Melalui Indeks Harga yang Dibayar oleh Petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan
jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian
terbesar dari masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan
untuk memproduksi hasil pertanian”Ungkapnya
Pada Maret 2025, Ib Provinsi Maluku tercatat sebesar 122,51 atau mengalami peningkatan sebesar
0,35 persen dibandingkan Februari 2025 yang besarnya 122,08. Jika dilihat per subsektor, seluruh
subsektor mengalami peningkatan Ib. Peningkatan Ib tertinggi disumbangkan oleh subsektor
tanaman pangan sebesar 0,61 persen”Pungkasanya ( BN AL )






