Editor: Redaksi
AMBON, Bedahnusantara.com: Energizing Maluku merupakan sebuah gerakan yang diarahkan untuk mendorong penguatan sumber daya manusia sekaligus memperluas akses masyarakat Maluku terhadap kesempatan kerja, kewirausahaan, pengembangan usaha dan jejaring ekonomi.
Program ini menjadi penting karena Maluku memiliki sumber daya alam, kekayaan budaya serta potensi ekonomi yang besar, namun potensi tersebut belum seluruhnya terhubung dengan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan, akses pasar, pembiayaan dan jejaring usaha yang memadai.
Karena itu, Energizing Maluku tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan seminar, pelatihan atau agenda seremonial. Semangat utama program ini adalah membangun ekosistem yang mempertemukan talenta, dunia pendidikan, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, investor, komunitas dan potensi ekonomi lokal dalam satu ruang kolaborasi.
Dalam konteks Maluku, pendekatan tersebut memiliki arti strategis. Wilayah kepulauan ini memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, rempah-rempah, sagu, kelapa, pariwisata, ekonomi kreatif, budaya, musik hingga ekonomi digital.
Tantangannya bukan semata-mata bagaimana menjaga dan mengelola potensi tersebut, tetapi bagaimana memastikan masyarakat lokal, khususnya generasi muda, dapat menjadi pelaku utama dalam rantai ekonomi tersebut.
Dengan demikian, Energizing Maluku dapat dipandang sebagai upaya memperpendek jarak antara potensi dan kesempatan. Anak muda yang memiliki kemampuan perlu dipertemukan dengan lapangan pekerjaan. Pelaku UMKM perlu mendapatkan akses pasar. Calon entrepreneur membutuhkan pendampingan dan pembiayaan. Sementara potensi ekonomi di negeri-negeri adat perlu dikembangkan menjadi model usaha yang memiliki nilai tambah dan mampu menciptakan pendapatan bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, dalam rangka menghadirkan kemandirian ekonomi di negeri-negeri adat dan masyarakat pada umumnya di Provinsi Maluku, Majelis Latupati Kota Ambon menegaskan keterlibatannya dalam Energizing Maluku sebagai bagian strategis dari upaya membangun sumber daya manusia, memperluas akses terhadap peluang ekonomi, serta mendorong potensi negeri adat agar dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Keterlibatan tersebut tidak ditempatkan semata-mata dalam kapasitas kelembagaan adat, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab untuk memastikan nilai, potensi, sumber daya manusia dan kekayaan ekonomi yang dimiliki masyarakat Maluku dapat terhubung dengan ekosistem pembangunan yang lebih luas.
Melalui jaringan negeri-negeri adat, Majelis Latupati ingin mendorong agar generasi muda, pelaku UMKM, calon entrepreneur maupun masyarakat yang memiliki potensi ekonomi tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi dapat tampil sebagai pelaku utama dalam menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha dan membangun kemandirian ekonomi di daerahnya masing-masing.
Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella, saat diwawancarai melalui WhatsApp, Kamis (20/8/2026), mengatakan nilai-nilai adat Maluku seperti pela-gandong, masohi, hidup orang basudara, serta tanggung jawab terhadap negeri merupakan modal penting dalam membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus ditransformasikan menjadi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti integritas, disiplin, etos kerja, profesionalisme, kemampuan berkolaborasi, keberanian berwirausaha hingga kepemimpinan.
“Majelis Latupati sejak awal tidak kami tempatkan hanya sebagai simbol atau pemberi legitimasi adat dalam Energizing Maluku. Kami ingin lembaga adat menjadi aktor strategis yang menghubungkan nilai-nilai Maluku dengan pembentukan manusia Maluku masa depan,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, Majelis Latupati memiliki tiga fungsi utama dalam program tersebut.
Pertama, sebagai penjaga nilai, agar pembangunan sumber daya manusia Maluku tetap memiliki akar budaya dan identitas.
Kedua, sebagai penghubung, karena raja dan pemerintah negeri memiliki jaringan langsung hingga ke masyarakat. Jaringan tersebut dinilai penting untuk menemukan anak-anak muda potensial yang selama ini belum memperoleh akses terhadap kesempatan pengembangan diri maupun ekonomi.
Ketiga, sebagai pembuka peluang, dengan membangun jembatan antara negeri-negeri adat dengan pemerintah, KADIN, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi hingga investor.
Reza menegaskan, keberhasilan Energizing Maluku tidak boleh hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir dalam seminar atau pelatihan.
“Target kami bukan sekadar berapa orang datang ke seminar. Kami ingin mulai membangun database talenta dan potensi ekonomi negeri,” katanya.
Database tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat memetakan anak muda yang membutuhkan pekerjaan, masyarakat yang membutuhkan peningkatan keterampilan, pelaku UMKM, calon entrepreneur serta berbagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari masing-masing negeri.
Reza mengatakan salah satu perhatian utama Majelis Latupati adalah memastikan Energizing Maluku tidak berhenti setelah kegiatan seremonial maupun pelatihan selesai.
Menurutnya, program tersebut harus dirancang sebagai sebuah perjalanan panjang. Setelah Grand Opening pada 12 September, akan dilanjutkan dengan rangkaian capacity building, coaching dan mentoring hingga Oktober, kemudian diarahkan menuju Job Fair & Recruitment, Startup Business Pitching dan Business Matching.
“Majelis Latupati ingin menggunakan jaringan negeri-negeri adat sebagai talent and economic opportunity pipeline,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, terdapat tiga kelompok utama yang akan dipetakan, yakni anak muda yang membutuhkan pekerjaan, calon entrepreneur atau startup yang membutuhkan mentoring serta akses pembiayaan, dan UMKM yang telah berjalan tetapi membutuhkan akses pasar maupun kesempatan masuk ke rantai pasok perusahaan.
Setelah mengikuti pelatihan, mereka diharapkan tidak berhenti sebagai peserta. Mereka harus dipertemukan dengan pihak yang memiliki peluang, mulai dari perusahaan, BUMN/BUMD, perbankan, investor, KADIN hingga dunia usaha.
Terkait peluang khusus bagi anak negeri, Reza menyatakan Majelis Latupati siap mendorong affirmative opportunity, namun tetap dengan mempertahankan prinsip kompetensi.
“Buka aksesnya, siapkan manusianya, kemudian berikan kesempatan yang fair. Yang kita perjuangkan bukan sekadar kuota, tetapi akses menuju kesempatan,” tegasnya.
Ia berharap perusahaan yang terlibat dalam Energizing Maluku dapat membuka peluang nyata berupa internship, recruitment, apprenticeship, vendor development, business matching hingga UMKM onboarding bagi generasi muda dan pelaku usaha Maluku.
Karena itu, menurut Reza, ukuran keberhasilan program harus terlihat dari dampak nyata di lapangan.
“Dari training menuju opportunity. Dari opportunity menuju income. Dan dari income menuju kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh Reza menilai persoalan mendasar masyarakat negeri adat bukan karena Maluku kekurangan potensi. Sebaliknya, Maluku memiliki kekayaan laut, perikanan, rempah-rempah, sagu, kelapa, pariwisata, ekonomi kreatif, budaya, musik hingga peluang ekonomi digital.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan ekosistem ekonomi yang kuat.
“Anak muda mempunyai kemampuan tetapi tidak mengetahui di mana peluangnya. UMKM mempunyai produk tetapi tidak bertemu buyer. Masyarakat mempunyai sumber daya tetapi tidak mempunyai business model. Perbankan mempunyai pembiayaan tetapi pelaku usaha belum bankable. Investor mempunyai modal tetapi tidak mengetahui proyek lokal yang siap investasi,” paparnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya jarak antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan dan lembaga adat dalam membangun ekosistem ekonomi masyarakat.
Karena itu, Collaborative Ecosystem dinilai menjadi salah satu pilar penting Energizing Maluku.
Majelis Latupati, kata Reza, ingin mendorong perubahan paradigma bahwa negeri adat tidak hanya dipandang sebagai unit sosial dan budaya, tetapi juga dapat menjadi basis pengembangan ekonomi masyarakat.
Tiga Agenda Agar Energizing Tidak Berhenti sebagai Program
Untuk memastikan gerakan tersebut berkelanjutan, Majelis Latupati mendorong tiga agenda lanjutan setelah Energizing Maluku.
Pertama, Negeri Talent & Opportunity Mapping, yakni pemetaan anak muda, keterampilan, UMKM dan potensi ekonomi setiap negeri.
Kedua, Negeri Economic Partnership, dengan menghubungkan potensi tersebut kepada KADIN, perusahaan, BUMN/BUMD, lembaga keuangan, perguruan tinggi dan investor.
Ketiga, monitoring hasil, sehingga dapat diketahui secara konkret siapa yang mendapatkan pekerjaan, UMKM mana yang memperoleh pasar, siapa yang mendapatkan pembiayaan dan kemitraan apa saja yang berhasil dibangun.
“Energizing Maluku harus menjadi starting point dari sebuah gerakan jangka panjang, bukan ending point sebuah acara,” tegas Reza.
Reza juga menyampaikan pesan kepada generasi muda Maluku agar tidak berhenti pada kebanggaan terhadap kekayaan alam dan budaya daerah.
“Katong tidak boleh hanya bangga karena Maluku kaya. Katong harus mampu mengubah kekayaan itu menjadi pengetahuan, keterampilan, pekerjaan, usaha dan kesejahteraan,” katanya.
Sementara kepada pemerintah dan dunia usaha, ia meminta agar generasi muda Maluku tidak hanya dilihat sebagai penerima program.
“Jangan hanya melihat anak-anak Maluku sebagai penerima program. Lihatlah mereka sebagai talenta, entrepreneur, mitra usaha dan pemimpin masa depan,” pungkasnya.
Bagi Majelis Latupati, semangat Bangkit Bersama dalam Energizing Maluku harus diwujudkan melalui langkah yang terukur: dari karakter menuju karier, dari komunitas menuju peluang, dan dari negeri-negeri adat menuju ekonomi Maluku yang maju dan berkelanjutan.
Dengan demikian, keberhasilan Energizing Maluku nantinya tidak hanya terlihat dari terselenggaranya rangkaian kegiatan, tetapi dari seberapa banyak anak muda yang memperoleh pekerjaan, berapa banyak usaha yang tumbuh, berapa banyak UMKM yang masuk pasar, berapa banyak potensi negeri yang menjadi kegiatan ekonomi, serta seberapa kuat masyarakat Maluku mampu berdiri sebagai pelaku utama pembangunan ekonominya sendiri. (BN Grace)





