Ambon, Bedahnusantara.com – Hilirisasi sagu di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Maluku, merupakan program strategis yang menggabungkan pelestarian kearifan lokal, ketahanan pangan, ekonomi hijau, dan pengembangan ekowisata, yang dimulai sejak tahun 2022, sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Negeri Rutong dengan pencanangan Negeri Rutong sebagai Negeri Ketahanan Pangan berbasis Sagu atas kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kota Ambon, Universitas Pattimura, PT BNI dan PT Telkom.
Dalam rencana pembangunan jangka menengah Negeri Rutong Tahun 2021-2026, hilirisasi sagu ditetapkan sebagai simpul atas pilar pembangunan negeri yakni pembangunan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan Green and Blue Economy, pengembangan pariwisata, ketahanan pangan, industri kecil menengah, E-commerce dan keuangan inklusif serta revitalisasi pemukiman.
Dalam sambutan Raja Negeri Rutong Reza Maspaitella mengatakan Komoditi sagu sendiri dipilih karena beberapa alasan utama yakni :
1. Sagu di Negeri Rutong, terutama di kawasan ini berkaitan dengan sejarah negeri, yang dipercaya dibawa oleh leluhur negeri dari Pulau Seram yakni Negeri Rumahkay di Kabupaten Seram Bagian Barat, yang melahirkan tradisi kekerabatan antar desa, Panas Gandong Rutong dan Rumahkay;
2. Hutan Sagu di Negeri Rutong telah terbukti sebagai sabuk hijau dalam perlindungan pesisir dari abrasi sampai mitigasi air pasang dan tsunami dengan sistem lingkungan hutan sagu, hutan mangrove, pantai, padang lamun dan terumbu karang yang masih terjaga;
3. Hutan Sagu di Negeri Rutong telah teruji sebagai sumber ketahanan pangan dengan karbohidrat dari tepung sagu dan protein dari ulat sagu;
4. Hutan Sagu di Negeri Rutong sebagai sumber keanekragaman hayati, merupakan hutan sagu terluas yang tersisa di Kota Ambon.
“Dengan alasan-alasan ini, bagi masyarakat Negeri Rutong, Sagu adalah simbol penjaga tradisi dan identitas Negeri yang harus dijaga, dilestarikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Lanjutnya, Sebelum hilirisasi sagu dikelola secara tradisional sehingga produksi terbatas, kualitas dan diversifikasi produk sagu cukup rendah dan Luasan lahan sagu beresiko menyusut karena alih fungsi lahan, minat pengelolaan sagu semakin berkurang karena minimnya alih pengetahuan.
“Jika permasalahan ini tidak diatasi, maka jumlah pelaku usaha sagu akan hilang, produk sagu tidak memiliki akses pasar, pengetahuan dan kearifan lokal terkait lahan sagu akan lenyap, identitas sosial makin pudar dan kesejahteraan sosial menurun. Karenanya hilirisasi sagu di Negeri Rutong dikembangkan dengan tujuan untuk:
1. Meningkatkan nilai tambah sagu sebagai komoditas pangan lokal yang ramah iklim dan berkelanjutan.
2. Mendukung ketahanan pangan nasional dan lokal, terutama menghadapi potensi krisis suplai bahan makanan.
3. Mendorong pengelolaan sagu secara berkelanjutan dengan memadukan teknologi tradisional dan digitalisasi untuk pengolahan serta pemasaran.
4. Memanfaatkan hutan sagu sebagai destinasi ekowisata yang edukatif dan berwawasan lingkungan, sehingga memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat serta menjaga konservasi lingkungan.
5. Memperkuat peran masyarakat adat sebagai pengelola utama dalam rantai nilai sagu dari budidaya hingga penjualan produk turunan.,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, Hilirasi Sagu di Negeri Rutong tersebut dikampanyekan sebagai bentuk inovasi negeri dengan nama SAGERU (Sagu Penggerak Ekonomi Rutong), yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala Pemerintah Negeri Rutong Nomor 3 Tahun 2023, yang mendefinsikan Pengelolaan SAGERU sebagai keterpaduan kegiatan pengelolaan sagu di Negeri Rutong yang meliputi aspek pemanfaatan lahan, budidaya pemeliharaan, produksi, pengolahan, peningkatan nilai tambah dan daya saing, pemasaran dan pemanfaatan sagu secara berkelanjutan secara terencana dan kolaboratif.
“Untuk mendukung hilirisasi sagu, Pemerintah Negeri Rutong mengembangkan strategi pentahelix membangun negeri, dengan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas masyarakat dan media sebagai mitra pembangunan antara lain Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Pattimura, Politeknik Negeri Ambon, Balai Pengawasan Obat dan Makanan, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Rakyat Indonesia, Bank Indonesia, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Tribun Network dan lain lain,” pungkasnya.
Dia mengakui, Hilirisasi Sagu di Negeri Rutong merupakan adaptasi kebijakan Mata Sagu yang dikembangkan oleh Dinas Pertanian Provinsi Maluku yang mengoptimalkan manfaat hutan sagu sebagai kebun sagu, dengan pertimbangan karakter pulau-pulau kecil yang umumnya memiliki sumber daya alam yang unik tetapi terbatas, relasi sosial masyarakat yang saling bergantung kepada lingkungan, rentan terhadap gejolak sosial serta minim akses dan layanan infrastruktur.
“Luasan lahan sagu pesisir Negeri Rutong yang hanya 30,35 Ha, perlu dikelola dengan segenap pertimbangan dan perencanaan yang menaati prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Dengan semua pembelajaran hilirisasi sagu ini, Pemerintah dan Masyarakat Negeri Rutong bersyukur dalam kurun waktu 2022 sampai 2024 telah memberi dampak sosial, dampak ekonomi dan dampak tatakelola,” bebernya.
Dia menambahkan, Selain itu SAGERU melahirkan produk olahan baru dari komoditi non sagu antara lain Wine Tomi-Tomi, Wine Galoba/Kecombrang, Anggur Pisang Tongka Langit, Serum Kulit Manggis, Virgin Coconut Oil, sebagai upaya hilirisasi potensi sumber daya alam Negeri.
“Untuk mengkampanyekan hilirisasi sagu, Pemerintah Negeri Rutong terus berupaya mempromosikan potensi sagu, salah satunya melalui film pendek Last Guardian of Sago atas dukungan Balai Pengawasan Obat dan Makanan Ambon, yang sekiranya dapat ditonton bersama-sama di saat ini.
Capaian-capaian hilirisasi sagu melalui SAGERU merupakan keberhasilan bersama yang tentu akan lebih berkembang dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan Ambon dan Dinas Pertanian Provinsi Maluku khususnya dalam pelaksanaan rencana Rutong Hijau yang mengintegrasikan pengelolaan potensi pertanian, perkebunan, peternakan dan konservasi hutan,” tutupnya. ( BN Grace)






