BPBD Ambon Siapkan Sumur Bor Hadapi Krisis Air dan Ancaman Karhutla

IMG 5530

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com:  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk menghadapi ancaman kekeringan dan krisis air bersih yang berpotensi terjadi di sejumlah kawasan saat musim kemarau.

Kondisi geografis Kota Ambon yang didominasi wilayah perbukitan membuat distribusi air bersih ke sejumlah permukiman menjadi tantangan. Persoalan tersebut semakin kompleks ketika debit sumber air mengalami penurunan akibat musim kemarau berkepanjangan dan perubahan pola cuaca.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Ambon, Frits R.M. Tatipikalawan, S.Hut., M.Si., saat dikonfirmasi melalui telepon, mengatakan ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus mendapat perhatian serius dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kita perlu mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, bukan hanya ketika masyarakat sudah mengalami kesulitan air, tetapi bagaimana kita membangun ketahanan untuk menghadapi kondisi tersebut,” ujar Frits.

Menurutnya, karakteristik wilayah Ambon yang banyak memiliki kawasan perbukitan menyebabkan pelayanan air bersih tidak selalu dapat menjangkau seluruh permukiman secara optimal, khususnya kawasan yang berada pada elevasi tinggi.

Pada musim kemarau, kondisi tersebut dapat semakin terasa karena debit sejumlah mata air berpotensi menurun. Apalagi perubahan iklim turut ditandai dengan perubahan pola hujan, peningkatan suhu dan kemungkinan periode kemarau yang lebih panjang.

Frits menjelaskan, berdasarkan pemetaan dan informasi awal yang diterima BPBD, terdapat sejumlah kawasan yang perlu mendapatkan perhatian dalam perencanaan penyediaan sumber air alternatif.

“Beberapa wilayah yang perlu menjadi perhatian antara lain Batu Merah, Kanawa, Warasia-Kebun Cengkeh, Gunung Nona, Siwang, Passo dan Karang Panjang. Tetapi ini masih membutuhkan verifikasi lapangan dan koordinasi dengan instansi teknis terkait,” katanya.

Ia menambahkan, distribusi air menggunakan mobil tangki selama ini memang menjadi salah satu langkah penanganan ketika masyarakat mengalami kesulitan air. Namun, pola tersebut memiliki keterbatasan, terutama di kawasan dengan akses jalan sempit, terjal maupun rawan terjadi longsor.

Karena itu, BPBD mendorong adanya solusi yang lebih permanen melalui pembangunan sumur bor di lokasi-lokasi yang memenuhi persyaratan teknis dan hidrogeologi.

“Sumur bor menjadi salah satu alternatif yang perlu dikaji karena dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap distribusi air menggunakan mobil tangki. Namun tentu lokasi pembangunan harus melalui kajian dan survei teknis agar sumber air yang diperoleh benar-benar layak dimanfaatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ambon, Vita Berhitu, saat diwawancarai langsung di Kantor Balai Kota Ambon, Jumat (2/10/2026), mengatakan persoalan kekeringan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air rumah tangga, tetapi dapat berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat.

“Kalau air bersih berkurang, dampaknya bukan hanya pada kebutuhan sehari-hari. Aktivitas masyarakat, kesehatan, pendidikan dan kegiatan ekonomi juga bisa ikut terganggu,” ujar Vita.

Ia mengatakan, kondisi geografis Ambon menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam penanganan kekeringan maupun distribusi bantuan air bersih.

Menurut Vita, kawasan perbukitan dengan akses jalan yang terbatas membuat mobil tangki tidak selalu dapat menjangkau seluruh lokasi secara mudah. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila terjadi bencana lain seperti longsor maupun pohon tumbang yang menghambat akses transportasi.

“Karena itu kita tidak bisa hanya berpikir pada penanganan saat masyarakat sudah kekurangan air. Harus ada perencanaan untuk memperkuat kesiapsiagaan, salah satunya dengan mencari sumber air alternatif yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Selain krisis air bersih, BPBD juga mengantisipasi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring kondisi cuaca panas dan berkurangnya kelembapan vegetasi pada musim kemarau.

Kawasan perbukitan dan lahan vegetasi yang berdekatan dengan permukiman menjadi perhatian karena apabila terjadi kebakaran, api berpotensi meluas dan mengancam lingkungan serta keselamatan warga.

Vita menjelaskan, kondisi lahan yang mengering juga dapat memperbesar potensi kebakaran, sementara penanganannya di lapangan tidak selalu mudah karena keterbatasan akses menuju kawasan perbukitan.

“Karena itu antara kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan pencegahan karhutla harus berjalan bersama. Ketersediaan air sangat penting, termasuk untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau,” ungkapnya.

BPBD Kota Ambon selanjutnya mendorong agar pemetaan wilayah rawan kekeringan dan rencana pembangunan sumur bor dapat dikaji secara lebih komprehensif. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan lokasi prioritas, kebutuhan anggaran, hingga pengusulan dukungan program kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan kekeringan tidak hanya bersifat responsif melalui pengiriman bantuan air ketika krisis terjadi, tetapi juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan sumber air alternatif yang mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan