Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Bodewin Wattimena kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kota Ambon untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak. Penegasan tersebut disampaikan saat dirinya diwawancarai di Kantor Balai Kota Ambon, Selasa (21/4/2026).
Dalam keterangannya, Wattimena menekankan bahwa seluruh satuan pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), memiliki tanggung jawab besar bukan hanya dalam meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter serta kondisi mental anak yang sehat dan positif.
Menurutnya, dunia pendidikan formal sejatinya merupakan ruang yang dirancang untuk menjamin tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung anak untuk berkembang, baik dari sisi intelektual, emosional, maupun sosial.
“Pendidikan itu bukan sekadar soal nilai dan prestasi, tetapi bagaimana kita membentuk karakter anak-anak kita. Sekolah harus menjadi tempat yang melindungi, membina, dan membangun masa depan mereka, bukan sebaliknya menjadi ruang yang justru merusak karakter dan mental anak,” tegasnya.
Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih adanya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan (bullying) yang terjadi di SD 79 Ambon. Kasus tersebut dinilai menjadi peringatan serius bagi semua pihak bahwa pengawasan dan pembinaan di lingkungan sekolah masih perlu diperkuat.
Wattimena berharap agar kasus tersebut dapat segera ditangani secara cepat, tepat, dan transparan oleh pihak sekolah maupun instansi terkait, sehingga tidak menimbulkan dampak berkepanjangan bagi korban.
“Ini contoh nyata yang harus kita sikapi dengan serius. Jangan dianggap sepele, karena dampaknya sangat besar. Anak yang menjadi korban bullying bisa mengalami tekanan psikologis yang mendalam, kehilangan rasa percaya diri, bahkan trauma yang bisa mempengaruhi masa depan mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dampak dari kekerasan terhadap anak tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan, baik dari segi pendidikan maupun kehidupan sosialnya di masa depan.
Karena itu, Pemerintah Kota Ambon berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya sekolah ramah anak melalui penguatan regulasi, peningkatan pengawasan, serta pembinaan kepada tenaga pendidik dan siswa. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas dari kekerasan.
Selain menyoroti peran sekolah, Wattimena juga memberikan perhatian khusus kepada peran orang tua dalam mendidik anak di rumah. Ia mengingatkan agar orang tua tidak memberikan tekanan yang berlebihan kepada anak, seperti membanding-bandingkan dengan anak lain atau menggunakan ancaman dalam pola asuh.
“Orang tua juga harus menjadi bagian dari solusi. Jangan membanding-bandingkan anak, jangan mengancam, karena itu akan berdampak langsung pada kondisi psikologis mereka. Anak-anak butuh dukungan, bukan tekanan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara sekolah, pemerintah, dan keluarga menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi yang sehat secara mental dan kuat dalam karakter. Tanpa kerja sama yang baik, upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman akan sulit terwujud secara maksimal.
Di akhir keterangannya, Wattimena berharap agar seluruh pihak dapat menjadikan kasus yang terjadi sebagai momentum untuk berbenah dan memperkuat komitmen bersama dalam melindungi anak-anak.
“Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga mereka. Masa depan Kota Ambon ada di tangan anak-anak kita hari ini. Karena itu, mari kita pastikan mereka tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih,” tutupnya. (BN GRACE)





