Editor : Redaksi
Catatan : Eltin Tanalepy, Aktivis Perempuan Maluku
( Sekretaris DPD KNPI Provinsi Maluku 2018-2021)
Opini,Bedahnusantara.com : Ingatan kita masih hangat dengan sebuah peristiwa penting yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Ambon, guna memastikan adanya peningkatan pelayanan bagi masyarakat Kota Ambon.
Peristiwa tersebut adalah proses Pelantikan dan Pengukuhan para Pejabat Tinggi Pratama lingkup Pemerintah Kota Ambon oleh Walikota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si sepekan lalu.
Pelantikan dan pengukuhan para Pejabat Tinggi Pratama ini didasarkan lewat Surat Keputusan Walikota Ambon Nomor 3337 tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari dan dalam Jabatan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dalam Lingkup Pemerintah Kota Ambon tertanggal 21 Aguatus 2025.
Rangkaian acara pelantikan itu, tentu menjadi bagian penting dari catatan perjalanan bahkan sejarah kepemimpinan Birokrasi yang di tulis oleh seorang Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si.,dan Ibu Elly Toisutta, S.Sos Sebagai Walikota dan Wakil Walikota Ambon, Masa Jabatan 2025-2030.
Namun pertanyaannya kini adalah; Apa yang menarik dari momentum tersebut?
” Dengan Melihat Keluar, disamping, Kedalam,” adalah sebuah langkah bijak yang mesti dilakukan oleh Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., dan Ibu Elly Toisutta, S.Sos Sebagai Walikota dan Wakil Walikota Ambon, dalam membentuk Tim Kerja.
Sebab Hal tersebut tidak saja akan membantu mereka mengenali berbagai kekuatan, kelemahan, hambatan dan peluang yang dimiliki atau yanga akan dihadapi pemerintah (sebagaimana ditawarkan oleh SWOT analysis), namun juga Tindakan menelisik ini betujuan penting untuk memaksimalkan pengembangan kapasitas institusi (institutional capacity building) sebagai bentuk pertanggung jawaban terhadap mandat rakyat dalam membangun sistem Birokrasi.
Olehnya lewat peristiwa tersebut, didapati sejulah hal menarik yang tentunya akan sangat disayangkan jika diabaikan an tidak dijadikan bahan perenungan atau referensi berfikir bagi kita Bersama.
Hal menarik pertama! Adalah; Proses Pelantikan dan Pengukuhan yang terjadi kemarin, secara tidak langsung akan membawa kita untuk sekilas Kembali memutar ulang ingatan akan rangkaian peristiwa pada momentum Pilkada 2024 yang lalu, dimana disaat itu terjadi pertarungan yang begitu sengit diantara seluruh kandidat (Bakal Calon) untuk meyakinkan masyarakat dan warga kota Ambon guna memilih mereka.
Bahkan Tidak mudah hilang dari ingatan kita, yakni; sebuah catatan penting bahwa: dua dari empat calon walikota asalnya ‘Birokrat Murni’ dengan kekuatan Politik Internal yang solid pada masing – masing Bakal Calon dilingkup Pemerintahan. Hal ini tentu akan menjadi ketakutan terbesar bagi mereka yang berbeda pilihan politiknya dari yang akan memenangkan pertarungan PILKADA.
Namun apa yang terjadi kemudian sunguh jauh berbeda dari pola kekuasaan pada umumnya, yang akan langsung meng -kickout lawan-lawan politiknya dalam lingakaran kekuasaan dan birokrasi.
Sebuah langkah yang sungguh luar biasa justru dilakukan oleh Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., dan Ibu Elly Toisutta, S.Sos Sebagai Walikota dan Wakil Walikota Ambon, Hal itu tidak hanya menampakan kepiawan politiknya, tapi juga kedewasaan dalam cara berpikir dan bertindak sebagai Pribadi-pribadi yang matang secara intelktual dan emosional, dengan mengusung pesan “bahwa pertarungan telah usai”.
Kedua Pemimpin Kota yang luar biasa ini bahkan dengan tegas dan jujur mengungkapkan; ” Kontestasi kala itu, masing – masing kita adalah kekuatan – kekuatan besar dengan tujuan dan maksud yang besar untuk Kota Ambon yang semakin besar, namun dengan jalan yang berbeda. Hingga akhirnya semua bermuara pada ada satu saja Walikota Kota dan Wakil Walikota Ambon,Yakni; Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., dan Ibu Elly Toisutta, S.Sos yang dipilih oleh masyarakat dan warga Kota Ambon secara sah dan benar,”.
Olehnya langkah bijak kemudian diambil oleh kedua pemimpin Kota Ambon tersebut, yang mana keduanya (Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., dan Ibu Elly Toisutta, S.Sos) kembali menghimpun seluruh kekuatan yang sebelumnya terkotak – kotak karena perhelatan Pilwalkot dan kemudian menjadikan semuanya sebagai satu kekuatan besar untuk mewujudkan Beta Par Ambon, Ambon Par Samua.
Selanjutnya Hal menarik kedua,adalah; adanya fakta yang tidak mudah untuk diabaikan oleh semua kita yakni; adanya suatu presepsi mengenai “tempat” yang pada ruang tertentu dan dimensi tertentu dipercaya memiliki muatan-muatan yang juga tidak dapat dipandang sebagai sebuah kebetulan, misalnya: Muatan Sosial, Kemajemukan, yang dapat diekpresikan atau di maknai dalam istilah – istilah simbolis dan muatan ini sendiri ditentukan berdasarkan sebuah Historis (Sejarah).
Agustine Berque mengatakan suatu “tempat” memiliki Dimensi Simbolis. Oleh sebab itu pemilihan Lokasi Pelantikan para Pejabat Tinggi Pratama Lingkup Pemerintah Kota Ambon di Terminal Transit Passo, tentunya bukan sebuah kebetukan semata, atau serta merta tiba-tiba (Spontan), atau memakai istilah tiba saat tiba akal atau bahkan bukan juga karena kehabisan tempat pelantikan diwilayah Kota Ambon.
Namun pemilihan Lokasi ini, tentunya didasari pada sebuah tujuan besar yang tidak hanya memberi pesan politik kepada seluruh masyarakat Kota Ambon , Bahwa; ada Mimpi dan Harapan yang besar untuk Mewujudkan Keberlangsungan Pemerintahan yang Ideal dengan memperhatikan berbagai aspek, baik itu dalam hal peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik efektif, namun juga menyediakan infrastruktur yang representatif dan memadai bagi para penyelenggara pemerintah.
Selain itu Terminal Transit Passo adalah juga merupakan Aset Pemerintah Kota Ambon yang tidak sempat terselesaikan pembangunannya, namun dalam cita – cita besar Walikota dan Wakil Walikota Ambon, tempat ini akan dirubah menjadi salah satu simbol Pemerintah Kota Ambon dimasa mendatang.
Yang terakhir , Hal menarik ketiga adalah, adanya Meritokrasi Birokrasi:..!!
Dengan mengusung Visi besar ‘Ambon Manise, yang Inklusif, Toleran dan Berkelanjutan’, yang tertuang dan termanifestasi dalam 17 program prioritas, tentu tidak akan bisa diwujudkan jika hanya dikerjakan oleh Walikota dan Wakil Walikota atau sekelompok orang saja.
Bahkan Dalam penyampaian Pidatonya yang begitu epic, terstruktur, tersistematis dan tanpa teks, Walikota Ambon dengan tegas menekankan bahwa perombakan Birokrasi ini dilakukan dengan metode Meritokrasi Birokrasi : Yakni; Elemen kunci pengelolaan ASN untuk menciptakan birokrasi yang profesional dan berdaya saing.
Sistem meritokrasi ini adalah salah satu bentuk jalan tool yang bertujuan untuk membangun birokrasi bersih. Sehingga sebelumnya Para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama ini telah melalui sejumlah pentahapan uji kompetensi secara profesional dan transparan serta memenuhi aspek kinerja, kecerdasan maupun kompetensi.
Tentunya Birokrasi yang efektif dan efesien membutuhkan kerjasama seluruh elemen dalam lingkup pemerintahan. Seingga di akhir pidato epiknya, walikota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., memberikan pesan penting bagi masyarakat yang secara esensial dapat dimaknai dengan ungkapan; ” kita sudah selesai dari Bilik Suara, saatnya membangun Masa Depan” (** Redaksi**)





