Ambon, Bedahnusantara.com: Dalam suasana dampak pendemi Covid-19 di Maluku, sejumlah kalangan baik personal, kelembagaan atau bahkan swadaya masyarakat kemudian merasa terpanggil untuk berempati dan menolong sesama (masyarakat terdampak) covid-19, dalam berbagai bentuk bantuan.
![]() |
| Lapalelo: Jika Tidak Bisa Membantu Jangan Menghina, Mari Berdoa Agar Semakin Banyak Pihak Yang Terpanggil Menolong Masyarakat |
Akan tetapi ternyata dampak dari empati yang diberikan kepada masyarakat oleh para pihak tersebut, tidaklah berbanding lurus dengan semua tanggapan yang timbul dimasyarakat.
Sejumlah kalangan bahkan memberikan pandangan miring atau bahkan mengungkapkan berbagai pendapat yang menegaskan bahwa, semua bantuan yang diberikan terutama oleh personal, Lembaga politik, atau bahkan lembaga lain yang berafiliasi dengan elemen politik. Hanyalah sebagai bentuk sikap membentuk sebuah pencitraan atau mempopulerkan diri masing-masing dan kelembagaan, dalam rangka menyongsong masa-masa dan agenda politik yang akan berlangsung dimasa mendatang.
Menyikapi persoalan dan fenomena tersebut, Edison Lalapelo, selaku peneliti yang juga pengamat politik dari Parameter Research dan Consultant ketika dimintakan pendapatnya kepada media ini mengungkapkan: dalam kondisi seperti saat ini semua orang merasakan kesusahan, tidak ada yang tidak mengalami kesusahan.
” Karena itu saya kira, terkait dengan semua sindiran di medsos atau bahkan pendapat liar diluar sana yang memberi pesan seolah-olah orang-orang yang memberikan bantuan kepada masyarakat dalam masa Covid-19 ini adalah sebagai bentuk pencitraan politik, atau bahkan saat mereka membantu itu dikarenakan ada dasar kepentingan. Maka dari tempat ini saya ingin menyatakan bahwa saya sungguh-sungguh berdoa dan berharap agar Tuhan mengirimkan lebih banyak lagi orang-orang yang seperti demikian, yang benar-benar mau dengan iklas membantu masyarakat, tanpa memperdulikan apa pendapat orang diluar sana, atau apapun gunjingan yang datang menghampiri,” Ungkapnya.
Hal ini perlu saya tegaskan mengapa, sebab kata Lapalelo, kami memiliki sebuah analisa data lapangan bahwa, mungkin saja orang-orang yang memberikan bantuan ini, seperti katakanlah bung Michael Wattimena, bung Febry Tetelepta, bung Hendrik Lewerissa, Pak Abdulah Tuasikal, Usi Mercy Barensz, Usi Novita Anakota, bung Rustam Latuponno, Ibu Elly Toisuta, Pa Aziz Sangkala dalam resesnya, Usi Jecklin Sahetappy, bung Falky Parera, bung Anos Yermias, dan nama-nama bekan lainnya adalah merupakan tokoh-tokoh dalam dunia perpolitikan.
” Akan tetapi saya kira begini, mereka ini mungkin adalah nama-nama yang kebetulan ada dalam dunia politik, tapi yang mestinya kita sadari bersama yakni; kita semua pada saat seperti ini lagi membutuhkan dan sementara menunggu kalau bisa ada sebanyak mungkin orang-orang yang mau membantu, bahkan saya lagi berdoa juga untuk orang-orang yang seperti ini semakin banyak yang datang dan membantu sehingga masyarakat semakin banyak juga yang terbantu. Yang secara tidak langsung akan memberikan dampak positif dalam hal masyarakat tidak lagi memiliki paradigma buruk kepada Pemerintah baik Kota Ambon maupun Provinsi Maluku,” Jelasnya.
Sebab harus juga kita akui, bahwa banyak kali bantuan dari pihak pemerintah belumlah mampu mengakomodir semua masyarakat yang membutuhkan, sehingga kita butuh orang-orang yang seperti ini.
” Kita mesti jujur bahwa kita (dalam hal ini masyarakat terdampak), membutuhkan orang-orang yang seperti ini, yang mau peduli dan berempati kepada masyarakat lewat bantuan mereka. Atau bahkan, kita juga membutuhkan bantuan dari lembaga-lembaga seperti KNPI Maluku dibawah kepemimpinan bung Subhan Pattimahu, bung Santos Walalayo, bung Julian Palar bersama lembaganya, Grub Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI),atau bahkan kelompok atau lembaga seperti GALADIKA dibawah komando bung Jhon Labobar. Atau bahkan lembaga politik seperti Golkar, PDIP, Demokrat, PPP dan lembaga lainnya seperti pihak BUMN atau BUMD, dan Swasta lainnya yang juga dengan tulus membantu masyarakat,” Terangnya.
Olehnya, mari kita janganlah terlalu fokus pada bantuan pemerintah semata. Memang kita membutuhkan bantuan pemerintah, akan tetapi jikalau ada person atau lembaga yang ingin berpartisipasi dalam menolong masyarakat. Mengapakah kita lantas harus kemudian mendiskreditkan atau memberikan label buruk terhadap niat baik dan tulus dari orang-orang tersebut.
” saya ingin mempertegas seperti ini, jangan kita suka menjelekan orang lain yang ingin membantu, sebab jikalau kita tidak dapat membantu orang yang membutuhkan maka jangan kita kemudian mencari sensasi dan mencari panggung dengan mencoba mendikte apa yang dibuat oleh orang lain. sebab selain para pihak ini, berdasarkan hasil riset kami, kelembagaan seperti Gereja juga turut membantu masyarakat lewat program diakonalnya, lantas apakah ketika Greja membantu masyarakat yang membutuhkan, itu menjadi sebuah pesan bahwa gereja juga sedang melakukan pencitraan atau mencari popularitas? saya rasa tidak. Sehingga sekali lagi saya tegaskan berhentilah mendikte dan menjustifikasi sikap empati orang lain dengan dalil pencitraan atau apalah namanya, sebab bagi saya: jika anda tidak bisa membantu lebih baik diam saja dan berdoa agar semakin banyak orang-orang yang seperti ini yang mau datang dan membantu masyarakat,” Tandasnya
Karena, ” bagi saya prinsipnya hanya satu, siapa yang menabur kebaikan pasti menuai kebaikan, dan sebaliknya. sehingga ingatlah dalam suasana seperti ini janganlah kita saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya,akan tetapi marilah kta saling menopang dan mendukung. Sebab pesan saya dalam kata bijak ” Karma itu tidak semanis Korma, jadi marilah menabur kebaikan bagi sesama,” tegasnya. (BN-08)






