Dari UKIM ke Universitas Indonesia, Dosen FH UKIM Serap Nilai Profesionalisme dan Budaya Akademik

IMG 7273

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Memperluas wawasan keilmuan dan membangun kualitas akademisi tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal. Diperlukan keberanian untuk keluar dari lingkungan akademik sendiri, membangun jejaring intelektual, serta belajar dari pengalaman para akademisi yang memiliki rekam jejak dan reputasi nasional.

Semangat tersebut ditunjukkan Dekan Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Sandy Victor Hukunala, S.H., M.H., melalui kunjungan akademik dan studi literatur ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sebagai dosen FH UKIM sekaligus mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Pattimura (Unpatti).

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

Dalam kunjungan itu, Hukunala berkesempatan berdiskusi langsung dengan Prof. Kurnia Toha, S.H., LL.M., Ph.D., Ketua Program Studi Doktor Ilmu Hukum FH UI.

Prof. Kurnia Toha dikenal sebagai akademisi dengan pengalaman panjang dalam bidang hukum bisnis. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI serta Kepala Pusat Hukum Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Menurut Hukunala, pertemuan tersebut bukan sekadar kesempatan untuk bertukar pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai bagaimana membangun karakter, integritas, dan profesionalisme sebagai seorang akademisi.

Ia menilai, seorang pendidik di perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada gelar akademik maupun jabatan struktural. Lebih dari itu, akademisi harus memiliki kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap perbedaan pandangan, serta menjunjung tinggi integritas intelektual.

Nilai humbleness atau kerendahan hati juga menjadi salah satu pelajaran penting yang diperolehnya dalam pertemuan tersebut.

Bagi Hukunala, kerendahan hati merupakan bagian penting dari budaya akademik. Sebab, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi intelektual melalui aktivitas membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, menguji gagasan, serta menghargai setiap proses pencarian kebenaran ilmiah.

Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pembelajaran pribadi, tetapi dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat atmosfer akademik di lingkungan Fakultas Hukum UKIM.

Menurutnya, tantangan pengembangan pendidikan tinggi di Maluku tidak seharusnya hanya dilihat dari keterbatasan geografis, fasilitas, maupun sumber daya. Perguruan tinggi daerah juga harus berani membuka diri, memperluas jejaring keilmuan, membangun kolaborasi, dan meningkatkan standar profesionalisme agar mampu bersaing secara nasional.

Kunjungan akademik ke FH UI sekaligus menjadi momentum untuk memperkaya perspektif dalam perjalanan studi doktoralnya, sehingga pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan institusi pendidikan tinggi di Maluku.

Hukunala berpandangan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak boleh berhenti pada pencapaian gelar atau kepentingan pribadi. Setiap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh harus dapat dibagikan serta dikembangkan untuk kepentingan institusi, masyarakat, dan kemajuan pendidikan.

Ia berharap budaya akademik yang menjunjung tinggi profesionalisme, integritas, keterbukaan berpikir, dan kerendahan hati semakin tumbuh di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Maluku.

Sebab, kualitas sebuah perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya diukur dari megahnya bangunan maupun reputasi institusi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia, kedalaman ilmu pengetahuan, integritas para pendidik, serta budaya akademik yang benar-benar hidup di dalamnya. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan